SERTIFIKASI SEBAGAI AJANG KOMODITI

Oleh: Achmad Nur, MA.

Dewasa ini, nilai globalisasi telah menjalar dan mengitari hampir seluruh lapisan ozon manusia. Segala aspek kehidupan manusia local secara bebas dapat di negosiasikan dengan kehidupan global. Dengan kata lain, secara sepintas dapat dikatakan bahwa dunia global membawa manusia kedalam kemudahan hidup. Berbicara globalisasi salah satu prinsipnya adalah komodifikasi, yaitu proses perdagangan yang berorientasi pada profit oriented, yang sangat tergantung pada kekuatan pasar.

Diakui atau tidak, saat ini kita berada dalam penjara dunia global yang kerap dengan proses komodifikasi untuk menjalani hidup. Fenomena ini merupakan hal yang wajar, namun ironisnya proses komodifikasi sudah merambah kedalam dunia pendidikan. Hal ini sudah jelas bertentangan dengan tujuan pendidkan itu sendiri ,yang berorientasi pada kebebasan dan kecerdasan bangsa. Ketika pendidikan sudah menjadi sebuah komoditi maka arahnya pada profit oriented, yang bergantung pada kekuatan pasar.

Oleh karena proses komodifikasi pendidikan yang terjadi di Indonesia, sangat luas dan banyak, dalam tulisan ini akan difokuskan pada fenomena sertiifikasi guru yang baru baru ini marak dibicarakan. penulis ingin melihat secara krits fenomena tersebut dari aspek epistemologis, yaitu bagaimana proses sertifikasi guru itu dilakukan. Dengan kata lain muatan muatan apa yang bersemayam dibalik fenomena tersebut. Untuk mengiris persolan diatas, akan digunakan paradigma social versi George Ritzer, yang terdapat pada salah satu tulisannya yang berjudul,the McDonaldization of Society.

Seputar Fenomena Sertifikasi Guru

Sebagaimana kita ketahui bersama mutu pendidkan di Indonesia saat ini sangatlah rendah, dibanding Negara Negara yang lain. Hal ini terjadi karena, kualitas intelektual subjek pendidikan yang melibatkan pendidik(guru) dan anak didik(murid) sangat rendah. Seorang murid akan memiliki kualitas intelektual yang rendah apabila Guru sebagai pembimbing dalam proses pembelajaran juga memiliki kapabilitas intelektual yang rendah. Dikatakan demikian, karena paling tidak guru memiliki wawasan pengetahuan yang luas dan tinggi untuk diberikan dan di dealektikaan dengan pengetahuan muridnya. tesis diatas diperkuat dengan data data yang dikemukakan oleh Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Fasli Djalal, sebagaimana dilansir dalam sebuah surat kabar nasional. Menurutnya, terdapat hampir separuh dari sekitar 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar. Kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar di sekolah. Lebih rinci disebutkan, saat ini yang tidak layak mengajar atau menjadi guru sekitar 912.505. Terdiri atas 605.217 guru SD, 167.643 guru SMP, 75.684 guru SMA, dan 63.961 guru SMK

. Rendahnya kualitas intelektual seorang guru, diasumsikan oleh banyak orang bahwa berawal dari minimnya penghasilan guru dibanding Negara Negara lain. Bagaimana seorang guru bisa mengkonsumsi media pengetahuan, menimbah informasi, sedangkan untuk menghidupi kebutuhan hidupnya saja tidak cukup. Berdasarkan kegelishan inilah, lahirlahUndang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada 30 Desember 2005 yang lalu. Dalam pasal 14 ayat (1), dinyatakan bahwa setiap guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan social. Namun untuk mendapatkan tambahan penghasilan yang lebih, itu bukanlah persoalan yang mudah. Dalam pasal 16, ditetapkan bahwa Pemerintah memberikan tunjangan profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat. Sedangkan untuk mendapatkan sertifikasi pendidik, harus melalui tahapan kualifikasi akdemik sebagaimana diatur dalam PP dan UU; dalam hal ini PP No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan UU Guru.

Untuk menjadi guru SD (atau MI) misalnya. Pasal 29 ayat (2) PP SNP secara eksplisit menyebutkan pendidik (guru) pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a) kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1), b) latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi; dan c) sertifikat profesi guru untuk SD/MI. Implikasinya ialah, untuk mendapatkan sertifikasi pendidik atau dapat diuji sertifikasi maka seorang guru SD setidak-tidaknya harus berpendidikan D-IV atau S1. Menurut data Balitbang Depdiknas, secara nasional baru sekitar 8 persen guru SD yang memiliki pendidikan minimal sarjana. Itu berarti, dari sekitar 1,2 juta guru SD yang dimungkinkan diuji sertifikasi hanya 8 persen saja.. Dari deskripsi perjalanan munculnya sertifikasi diatas,akan kita lihat secara kritis muatan apa yang ada dibalik pemenuhan kualifikasi akademik sebagai tahapan awal untuk uji sertifikasi.

McDonaldinasasi gelar akademik

Sebagaiman dijelaskan diatas, sertifikasi berawal dari rendahnya kapabilitas intelektual guru yang salah satu penyebabnya adalah rendahnya penghasilan guru, kemudian lahirlah UU kesejahteraan guru dan dosen. Sebagai salah satu saratnya untuk mendapatkan kesejahteraan tersebut, dibutuhkan sertefikat pendidik, dan untuk mendapatkannya diperlukan kualifikasi akdemik. Saat ini seorang guru berlomba lomba untuk mengejar karir akademik yang berupa gelar agar bisa dengan mudah mendaptkan sertifikat pendidik, sehingga bisa mendapatkan penghasilan yang lebih. Dengan demikian, dapat dikatakn bahwa landasan utama seorang guru mengejar kualifikasi akademik guna hanya untuk mendapatkn kesejahteraan dirinya. Hal ini dapat kita buktikan dengan maraknya proses komodifikasi gelar akdemik yang terjadi disetiap perguruan tinggi swasta maupun negeri. Untuk mendapatkan gelar sarjana, seseorang tidak perlu lagi kuliah secara intensif sebagimana layaknya insan akdemik yang setiap harinya di sibukkan dengan persoalan intelektualitas.

Mereka cukup datang beberapa pertemuan kemudian daptlah gelar beserta ijazahnya secar cepat. Proses ini tidakubahnya dengan McDonaldisasi sebagi karakter has dunia global yang menyediakan franchising makanan cepat saji. Ritzer membagi prinsip Mcdonaldisasi yang diantarnya adalah: efisiensi, yaitu menyajikan menu secara stntadar, porsi yang sama dan secara cepat, atau siap saji. Dalam konteks pendidikan, lembaga pendidikan atau perguruan tinggi bisa memeberikan gelar dan ijzah dengan cepat, praktis, dan sama dengan yang lainnya, walaupun tanpa melalui proses akademisi. Kalkulabilitas, yaitu proses kalkulasi untung rugi, artinya memperhitungkan keuntungan capital yang diperoleh dari setiap menu yang disajikan sesuai dengan selera pembeli.. Dalam konteks pendidikan, perguruan tinggi menyediakan gelar gelar yang banyak diminati dan dibutuhkan oleh mayoritas masyarakat Indonesia, dengan tujuan hanya untuk mendapatkan keuntungan capital.

Dari analisis diatas, dapat dikatakan bahwa lembaga perguruan tinggi saat ini telah menjadi komoditi sehingga banyak menarik peminat dan pelanggan untuk melakukan taransaksi pasar, yang salah satunya diminati oleh para guru untuk mendaptkan gelar akademik. Ketika hal ini terus dilakukan oleh tenaga pendidik maka, menurut asumsi penulis, intelektualitas sebagai ruh pendidikan tidak akan menjadi landasan utama dalam memperoleh pengetahuan,sehingga mutu pendidikan yang didam idamkan hanya akan menjadi mimpi belaka. Disisi lain, nasib bangsa Indonesia, khususnya generasi muda akan semakin menderita dengan kebodohan yang dipikulnya, karena seorang tenaga pendidik tidak memiliki kapabilitas yang mumpuni dan kompetensi dalam hal pengetahuan. Dengan demikian,jadikanlah aturan sertifikasi pendidikan sebagai modal utama untuk mengembangkan kapabilitas intelektual, dan jangan jadikan serrtifikasi pendidikan sebagai paksaan atau desakan ceremony untuk mendapatkan kesejahteraan personal tanpa memperhatikan kesejahteraan social. Akhir kata, “tidak ada yang ada, yang ada hanyalah perubahan”

Penulis adalah: Pemburu Pengetahuan, Aktifis Jaringan Islam Kampus Jogjakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: