Sayyid Qutb dan Teori Kritik Sastra

Oleh Iwan Joyo S

Sekretaris UKPK STAIN Jember

www.scathzi.multiply.com

HP 081358001080

22/05/2008

Yang menarik, Qutb memperlakukan Alquran sebagai teks sastra sebagaimana teks-teks lain, dan mendekatinya dengan sudut pandang yang sama yang ia pakai untuk memandang karya Tagore, misalnya. Analisis Qutb yang lebih mendalam tentang Alquran sebagai obyek estetik dapat kita baca dalam bukunya, al-Tashwir al-Fanni fi al-Qur’an.

Dalam buku al-Naqd al-Adabi: Usuluhu wa Manahijuhu,Sayyid Qutb mencoba meletakkan dasar-dasar teori kritik sastra yang menarik sekali. Buku ini ditulis setelah dia menyelesaikan dua buku lain yang juga sangat penting, Fi Zilal al-Quran dan al-Taswir al-Fanni fi al-Quran. Artinya, buku tentang teori kritik sastra itu lahir setelah periode di mana Qutb menjadi salah satu ideolog penting Ikhwan. Dengan kata lain, buku itu merupakan bagian dari fase “Islamisme” Qutb.

Menurut saya, Qutb dalam buku ini sangat berbeda dari sosok yang selama ini kita bayangkan mengenai dirinya. Dalam banyak hal, buku ini cukup cemerlang. Qutb berusaha meletakkan dasar-dasar teori kritik sastra berdasarkan pengalamannya sendiri, bukan sekedar mengutip sana-sini dari berbagai sumber. Artinya, ini adalah karya orisinal dari seorang penulis Arab untuk merumuskan teori sastra dan kritik sastra.

Berbeda jauh dari Qutb sebagaimana kita baca pada Fi Zilal al-Quran, dalam buku ini saya melihat sosok yang memandang dunia estetik dengan semangat yang sangat terbuka. Dia antara lain mengatakan bahwa setiap karya sastra yang sukses akan menyuguhkan dunia baru yang unik yang akan memperkaya pengalaman kita akan dunia. Pengalaman estetik menurut Qutb adalah arena eksplorasi yang tanpa batas.

“Al-adabu yaftahu li al-insaniyyati ‘awalima jadida min al-shu’ur,” kata Qutb. Sastra menguakkan dunia-dunia pengalaman baru bagi manusia. Ia berbicara bukan saja mengenai sastra Arab secara khusus, tetapi sastra secara universal. Dia juga berbicara mengenai “al-insaniyyat” sebagai “human being”, sebagai manusia secara umum tanpa embel-embel agama.

Dalam buku ini, tampak sekali Qutb terpesona dengan sastrawan besar India, Rabindranath Tagore, terutama karya Tagore yang ia kutip berkali-kali, “Tukang Kebun” (The Gardener; dalam versi Arab: Ru’at al-Hubb). Dia juga banyak mengutip dari sastrawan Inggris, Thomas Hardy.

Dalam bukunya ini, Qutb juga melakukan kritik atas sastrawan Arab sendiri yang ia pandang tidak cukup berani menjelajahi pola-pola pengucapan baru, sehingga tak kelihatan individualitas mereka sebagai seorang pencipta.

Semula saya mengira Qutb akan menggiring sastra sebagai sekedar alat saja untuk propaganda doktrin agama. Dalam buku ini, sama sekali saya tak melihat Qutb memandang sastra sebagai subordinat atau fungsi dari sesuatu yang lain yang lebih besar. Dia tetap memerlakukan pengalaman estetik sebagai pangalaman otentik yang otonom dan harus diperlakukan demikian.

Yang menarik, Qutb memperlakukan Alquran sebagai teks sastra sebagaimana teks-teks lain, dan mendekatinya dengan sudut pandang yang sama yang ia pakai untuk memandang karya Tagore, misalnya. Analisis Qutb yang lebih mendalam tentang Alquran sebagai obyek estetik dapat kita baca dalam bukunya, al-Tashwir al-Fanni fi al-Qur’an.

Ini penting saya tekankan untuk menonjolkan sosok Qutb yang sama sekali lain dari yang selama ini kita kenal–Qutb sebagai ideologi sebuah gerakan yang fundamentalistik. Dalam Fi Zilal al-Qur’an, Qutb datang sebagai sosok yang memandang dunia dengan kaca-mata dualistik: dunia terang dan dunia jahiliyyah. Hal ini makin kelihatan dalam bukunya yang sering dipandang sebagai manifesto bagi sejumlah kalangan Islam garis keras di Mesir, Ma’alim fi al-Thariq. Dalam buku ini, saya tak melihat sama sekali rembesan dari cara pandang yang dualistik. Padahal buku ini ditulis setelah periode Qutb menulis Fi Zilal al-Qur’an.

Qutb mendefinisikan sastra sebagai al-ta’bir ‘an tajriba shu’uriyya bi shura muhiya (ungkapan tentang pengalaman estetik dengan cara yang menyentuh). Yang menarik adalah bagaimana Qutb memandang pengalaman estetik itu. Saya cukup kaget karena Qutb melihat pengalaman estetik tidak dengan kaca-mata yang bersifat ikhtizali atau reduksionistik.

Apa yang ia sebut sebagai pengalaman estetik bukan saja meliputi hal-hal yang membangkitkan semangat kerja, tetapi mencakup pula pengalaman keputusasaan dan kekalahan. Artinya, Qutb cukup inklusif dalam melihat cora-corak pengalaman itu, tidak membatasinya semata-semata pada pengalaman yang membangkitkan perjuangan melawan kekafiran dan dunia jahiliyyah.

Saya cukup kaget dengan analisis Qutb semacam ini. Semula saya menduga ia akan mengabaikan pengalaman keputusasaan sebagai hal yang tak layak menjadi wilayah eksplorasi sastra.

Dengan kata lain, teori sastra Qutb sama sekali tak ada bau Ikhwan al-Muslimin-nya. Sekurang-kurangnya sebagaimana terbaca dalam buku ini. Ini membuat sosok Qutb misterius bagi saya: bagaimana bisa kita menjumpai dua sosok yang sama sekali berbeda secara radikal dalam waktu yang bersamaan: Qutb sebagai “aku-estetis” dan “aku-ideologis”?

Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1349

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: