Kebebasan adalah Bagian dari Demokrasi

Oleh Iwan Joyo S

Sekretaris UKPK STAIN Jember

www.scathzi.multiply.com

HP 081358001080

28/04/2008

Kebebasan itu mengandung dua ancaman, ancaman dari negara dan ancaman dari masyarakat. Seperti anda bilang, bisa saja konstitusi sangat toleran atau pro kebebasan, sementara masyarakatnya belum menghayati sehingga melakukan pelanggaran terhadap kebebasan. Sebetulnya konstitusi Indonesia memberikan kebebasan buat keyakinan dan agama apa saja untuk

Indeks kebebasan sipil di negeri-negeri Muslim tak selalu menggembirakan. Namun, menurut Freedom House, indeks kebebasan sipil di Indonesia cukup tinggi. Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal berbincang dengan Dr. Luthfi Assyaukanie membahas tema tersebut melalui Radio 68 H, pada tanggal 23 Agustus 2007.

JIL : Baru-baru ini, oleh Freedom House, Indonesia ditempatkan sebagai negara yang dianggap memiliki tingkat kebebasan sipil yang tinggi. Apa yang bisa kita maknai? Apakah kita perlu bangga atau kita justru harus bersedih dengan kenyataan itu?

LUHTFI : Kita tentu bangga. Indeks ini sudah dilakukan sejak lama. Saya ingin menyebutkan tiga jenis kategori. Ada jenis negara yang bebas (free), ada negara separoh bebas (half-free), dan ada negara yang tidak memiliki kebebasan sipil sama sekali (not-free). Waktu Orde Baru, Indonesia itu dinilai sebagai half-free. Baru tahun 2005, Freedom House memberikan nilai full-free atau free kepada Indonesia. Ini cukup membanggakan, terutama kalau kita kaitkan dengan konteks Islam. Sebab, ada pandangan umum bahwa Islam anti demokrasi, anti kebebasan. Kita bisa lihat, dari sekian negara-negara yang disurvey, hanya sedikit negara Muslim yang mendapatkan nilai full-free. Kita cukup berbangga bahwa Indonesia sejak Reformasi ada perubahan untuk menegakkan demokrasi dan kebebasan dan bukti konkretnya kita dinilai oleh dunia sebagai negara yang melaksanakan kebebasan sipil cukup tinggi.

JIL :apa yang digunakan Freedom House atau institusi-institusi sejenis yang melakukan penilain tentang tingkat kebebasan dan tidak bebas di sebuah negara? Indikator-indikatornya apa saja?

LUHTFI : Kebebasan itu sendiri konsep filosofis. Saya ingin menarik ke belakang. Pada tahun 1941 Presiden Rosevelt, Presiden Amerika Serikat itu pidato di depan Kongres dan membagi kebebasan ada empat. Kebebasan untuk berbicara, kebebasan berkeyakinan, kebebasan dari kesengsaraan atau kemelaratan, dan terakhir kebebasan dari ketakutan. Ini jenis-jenis kebebasan yang kemudian disebut empat jenis kebebasan. Oleh para filosof kemudian dikategorisasikan dua kebebasan; kebebasan positif dan kebebasan negatif. Kebebasan positif misalnya kebebasan berbicara, kebebasan berkeyakinan. Adapun kebebasan negatif, yaitu kebebasan dari kelaparan dan dari ketakutan. Ketika kita mengindeks kebebasan, kita menyertakan jenis-jenis kebebasan ini, baik kebebasan positif maupun kebebasan negatif. Misalnya kita mengukur apakah di Indonesia secara umum tingkat toleransinya terhadap orang berbeda agama tinggi atau tidak; apakah kebebasan berkeyakinan bisa dilangsungkan dengan baik atau tidak.

JIL : ada semacam persepsi bahwa negara-negara maju nampaknya punya tingkat kebebasan tinggi, sementara negara berkembang mayoritas belum bebas. Komentar anda?

LUHTFI: Kebebasan adalah bagian dari demokrasi. Kadang sebuah negara menerapkan demokrasi tetapi mengabaikan kebebasan. Berapa banyak negara yang mengklaim sebagai negara demokratis tetapi nilai kebebasannya rendah sekali. Korea Utara itu mengklaim sebagai negara demokratis tapi pada praktiknya tidak ada kebebasan di sana. Karena itu, Fareed Zakaria misalnya membedakan antara freedom dengan demokrasi. Sebagian besar negara-negara dunia ketiga mencoba menerapkan demokrasi tetapi biasanya gagal menjalankan kebebasan.

JIL : Saya teringat laporan State Departement Amerika yang setiap tahun memeringkat kebebasan di tiap negara. Di situ di analisis apakah konstitusi atau perundang-undangan di sebuah negara itu bebas atau tidak. Juga disurvey apakah masyarakatnya mendukung kebebasan atau tidak. Ada gap. Kadang konstitusi menghargai kebebasan, tapi penyikapan masyarakat justru tidak menghargai kebebasan. Seperti apa?

LUHTFI : Kebebasan itu mengandung dua ancaman, ancaman dari negara dan ancaman dari masyarakat. Seperti anda bilang, bisa saja konstitusi sangat toleran atau pro kebebasan, sementara masyarakatnya belum menghayati sehingga melakukan pelanggaran terhadap kebebasan. Sebetulnya konstitusi Indonesia memberikan kebebasan buat keyakinan dan agama apa saja untuk hidup. UUD 1945 terutama pasal 28 telah menjamin kebebasan berbicara, berserikat, berkumpul dan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Tapi ada sebagian kelompok masyarakat yang tidak menghayati itu dan kemudian melakukan kekerasan terhadap kelompok tertentu. Kita menyaksikan kekerasan yang dialami oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia misalnya.

Saya ingin menyampaikan hasil penelitian yang dilakukan Freedom Institute bekerjasama dengan LSI, JIL dan The Indonesian Institute. Ketika masyarakat Islam atau umat Islam ditanya tentang kelompok yang tidak disukai, mereka menjawab PKI, Yahudi, GAM (Gerakan Aceh Merdeka), Kristen, Jama�ah Islamiyah, Ahmadiyah. Sekitar 57,6% umat Islam tak menyukai Partai Komunis Indonesia; yang tidak suka Yahudi 8,2%; dan yang tidak suka Ahmadiyah 2,7%. Jadi, yang tidak suka terhadap Ahmadiyah itu cukup kecil. Namun, yang menarik, ketika mereka ditanya tentang kesesuaian Islam dengan demokrasi, 70% dari responden menyatakan bahwa Islam dan demokrasi sejalan.

JIL: Kadang orang berkata bahwa kebebasan sama dengan free sex. Gimana itu?

LUHTFI: Orang kadang-kadang rancu, tidak bisa membedakan antara kebebasan dan keliaran. Jadi sesuatu yang kalau dibilang bebas itu, dalam benak seseorang biasanya dianggap liar, apa saja boleh. Padahal dalam kebebasan ada aturan-aturan. Ketika berbicara tentang kebebasan itu, kita mesti berbicara konsep kebebasan universal dulu, misalnya kebebasan berbicara, kebebasan berekspresi. Nanti kebebasan berbicara itu ada turunannya lagi, berbicara di ruang apa, berbicara dalam skala apa. Jangan masuk pada masalah-masalah moral dulu.

JIL : apakah dapat disimpulkan bahwa Islam dan kebebasan sipil di Indonesia itu bermasalah atau tidak?

LUHTFI : secara umum saya kira survey atau temuan LSI dan JIL ini paralel atau sejalan dengan temuan freedom house. Secara umum ada kebebasan dan toleransi dalam masyarakat Islam Indonesia. Tapi tentu saja dengan catatan. Ada kasus-kasus tertentu atau kondisi-kondisi tertentu yang nilainya boleh dibilang bertentangan dengan semangat kebebasan. Tapi secara umum, sekali lagi, kita katakan bahwa ada semacam kompatibilitas antara Islam dan kebebasan sipil di Indonesia.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: