Memerangi Pola Pemikiran Yahudi di Tubuh Ummat Islam

Oleh : Iwan Joyo S

Sekretaris : Unit Kegiatan Pengembangan Keilmuan (UKPK)

STAIN Jember

Periode 2006-2008

Web site : www.scathzi.multiply.com

Email : Scathzi_07@yahoo.com

Menhan Amerika, Rumsfeld, kemarin (24/10/2003) seperti dikutip ‘The Washington Post’ mengatakan bahwa Amerika Serikat perlu membentuk sebuah Lembaga Baru yang akan membantu memperjuangkan “perang idea” atau perang gagasan melawan idea yang anti terhadap dunia bebas (Liberalisme) dan terorisme internasional (keduanya diidentikkan dengan muslim). “Kita berada dalam perang Idea selain perang global melawan terorisme. Gagasan-gagasan itu penting dan perlu disusun serta dikomunikasikan ke para pendengar” ujar Rumsfeld, yahudi kelahiran Amerika yang kini menjabat orang nomor satu di Pentagon. Statement ini bisa dianggap pernyataan perang terbuka terhadap kaum muslimin se dunia, tak terkecuali di Indonesia. Perang kali ini akan lebih “dahsyat” dari sekedar perang fisik yang menggunakan rudal dan pesawat pembom, karena yang diserang langsung masalah aqidah islamiyah. Siapkah ummat Islam?

Memasuki bulan Ramadhan bagi ummat Islam biasanya punya kesan tersendiri. Nabi Muhammad saw mencanangkan perang melawan nafsu sebagai jihaad akbar, dan dalam sejarah Islam, perang melawan musuh Islam sering terjadi di bulan ini pula. Bahkan peperangan nabi saw juga sering terjadi pada bulan-bulan itu. Kini 14 abad kemudian peperangan itu tetap saja dialami oleh ummat Islam. Tapi kini perang itu berubah menjadi perang pemikiran yang lebih canggih, yaitu “Perang Idea atau Perang Gagasan”. Tapi hakekatnya tetap sama, perang melawan hawa nafsu serakah dan angkara murka. Dan genderang perang itu sudah dicanangkan sendiri oleh menteri pertahanan negara Dajjal di dunia, Amerika Serikat, seperti dikutip Whasington Post diatas. Masihkan ummat Islam tidur terus menyaksikan fenomena itu?

Sebenarnya gagasan atau idea yang ingin diperjuangkan yahudi khususnya dan dunia Barat umumnya, bukanlah barang baru di mata ummat Islam. Gagasan yang mereka sebut sebagai ‘Dunia Bebas’ yang sebenarnya terjemahan lain dari Liberalisme, serta paham Materialisme yang mendasari konsep itu, sudah jauh-jauh hari diingatkan Allah kepada semua ummat manusia dalam al-Qur’an. Inilah idea atau gagasan yang menuhankan kepentingan diri (nafsu) diatas segalanya dan beranggapan kehidupan itu sebatas kehidupan diatas dunia semata (materialistik). Allah menyampaikan itu dengan kalimat-Nya, ” Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran . Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.

Paham atau gagasan atau idea semacam itu sebagai pola berfikir untuk mencapai kemakmuran materi dengan istilah “Dunia Bebas” atau Liberalisme dan Materialisme telah diputuskan Allah sebagai pemikiran atau gagasan yang sesat dan menduga-duga atau hipothesis saja. Akibat berfikir demikian, maka wajarlah mereka dilaknati oleh Allah sendiri, sebagaimana firman-Nya :” Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Al-Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?”. Kewajiban ummat Islam adalah membendung dan kalau perlu melawan dan memerangi idea atau gagasan sesat semacam itu. Inilah kesadaran yang perlu direnungkan dalam selama Ramadhan ini.

Tetapi sebelum kita melawan mereka secara frontal, ada baiknya pandangan atau idea Yahudi itu dihancurkan dulu dalam tubuh ummat islam sendiri. Bukankah sebanyak 17 kali sehari semalam saat mendirikan sholat, bacaan wajib yang diucapkan dalam surat Fatihah adalah permohonan kepada Allah jangan sampai termasuk dalam kelompok “al-maghdub” dan “ad-dholin”? Imam Tirmidzi mentasirkan dengan dasar mengutip sebuah hadts nabi mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan kedua kata itu adalah Yahudi dan Nashrani. Artinya, janganlah yang sedang sholat itu sampai terjebak dalam pola fikiran dan sikap hidup ala Yahudi dan Nashrani. Tapi apa lacur yang terjadi? Usai sholat ummat Islam banyak yang justru terbuai dengan gaya hidup dan pola berfikir mereka. Pola keilmuan seratus persen menyontek mereka, padahal sudah tahu pandangan yang mendasari pola keilmuan mereka adalah paham materialisme yang sesat itu. Bahasa mereka dianggap lebih penting ketimbang belajar bahasa Qur’an. Sistem politik dan ekonomi ala mereka dianggap solusi terbaik, sementara nilai-nilai Qur’ani dibuang jauh-jauh karena dinilai tidak praktis dan ‘out to date’. Bahkan sampai tata cara makan saja, harus meniru-niru mereka dengan gaya ‘standing party’ dengan mengabaikan tata cara makan yang diajarkan akhlak islam. Demikian pula dalam tata cara pergaulan hidup, “dunia bebas” ajaran yahudi yang mengajarkan “budaya permissive’ dan ‘free love and free sex’ lebih banyak diterima daripada nilai-nilai ajaran akhlak islami. Pokoknya ummat Islam sekarang, sebagian terbesar berada dibawah “telapak kaki” kaum yang seharusnya di jauhi pola fikir dan pandangannya serta gaya hidupnya itu.

Padahal, serendah-rendahnya dan seburuk-buruknya makhluk itu, kata Allah, adalah orang kafir: “Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman”. Lalu kalau ummat Islam sekarang ini posisinya berada dibawah telapak kaki mereka, apakah bukan berarti keberadaannya saat ini lebih rendah dan lebih buruk daripada mereka di hadapan Allah? Pantaslah kalau ummat Islam sekarang ini dihinakan dimana-mana di muka bumi. Kalau selagi di dunia saja sudah dihinakan Allah, masihkah berharap di akhirat kelak masuk surga? Semua ini akibat kesalahan mereka sendiri, meninggalkan pandangan yang diajarkan Allah (al-Qur’an) dan berpaling mengambil pandangan kaum Yahudi di muka Bumi. Dan hal ini, sebenarnya sudah dinubuatkan oleh nabi Muhammad saw jauh hari sebelumnya, seperti ucapan beliau yang dikutip Qur’an: “Berkatalah Rasul (Muhammad): ‘Ya Rabbku, sesungguhnya ummatku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. Ummat nabi saw mengacuhkan Qur’an? Itu sudah dibuktikan sekarang ini, mereka merasa lebih ‘sreg’, merasa lebih ‘enjoy’ , mereka merasa lebih ‘perhatian’ dengan sesuatu pandangan diluar Qur’an, yaitu pola pandangan yahudi … dunia bebas dan materialisme. Sekarang rasain lu, belum mati aja sudah dipecundangi dimana-mana. Selama ummat Islam tak mau berjihad memerangi hawa nafsunya yang cendrung mengekor pola fikir/pandangan atau idea atau gagasan kaum yahudi, selama itu pula mereka berada dalam kehinaan. Ini sudah sunatullah. Karena, barangsiapa mengikuti jalan hidup manusia yang telah dilaknat Allah, pasti dia pun akan ikut-ikutan terlaknat. Nauzubillah Minzalik!!!.

Artikel ini Halal di Copy tidak ada larangan apapun dan diwajibkan mencantumkan sumbernya yaitu

Kompilasi www.pakdenono.com dan www.scathzi.multiply.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: