Melacak Kurikulum Teroris di Pesantren

Melacak Kurikulum Teroris di Pesantren

Oleh : Iwan Joyo S

Sekretaris : Unit Kegiatan Pengembangan Keilmuan (UKPK)

STAIN Jember

Periode 2006-2008

Web site : www.scathzi.multiply.com

Email : Scathzi_07@yahoo.com

Pesantren, adalah institusi pendidikan Islam, tempat mengajarkan tatanan hidup Islami kepada para santri. Diharapakan, para alumni pesantren, kelak menjadi pioneer kebajikan di tengah-tengah masyarakat. Inilah misi Islam, sebagai realisasi dari hadits Nabi Muhammad Saw.: “Orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain mendapatkan pahala bagi dirinya dan orang lain yang mengikuti ajakan kebaikan itu.” (HR. Muslim),

Namun, kini eksistensi pesantren mulai digugat, misi Islam dicurigai sebagai penyebar ideologi teroris dan menanamkan paham ekstrimis. Berdasarkan kecurigaan ini pula, Presiden AS, George Walker Bush, menekan pemerintah RI, agar mengubah kurikulum pesantren. Untuk kepentingan ini, pemerintah AS menjanjikan dana dan fasilitas berlimpah.

Wakil Presiden RI, Yusuf Kalla, mungkin tipe pejabat tinggi yang paling agresif merespons keinginan tersebut. Dalam rangka ini, dia pula yang pertama kali berinisiatif membatasi sekaligus mengawasi aktivitas pesantren, dengan dalih kecurigaan yang sama.

Pada kesempatan buka puasa bersama keluarga besar alumni HMI (KAHMI), 15 Oktober 2005, Yusuf Kalla melontarkan pernyataan kontroversial: “Dari 12 ribu pesantren di Indonesia, ada satu-dua pesantren yang terindikasi menyebarkan paham ekstrim, ideologi teror, dan melakukan cuci otak pada santrinya. sehingga berani melakukan bom bunuh diri.”

Tidak hanya wacana, pemerintah melalui Departemen Agama, menerjunkan tim penelitinya, antara lain ke pesantren Ngruki, Solo, dan pesantren Al-Islam di Tenggulun. Tujuannya, untuk klarifikasi, adakah keterkaitan antara kurikulum pendidikan di pesantren tersebut dengan terorisme, mengingat beberapa alumninya dipenjara, tersangkut kasus teroris dan peledakan bom.

Hasilnya, pesantren tersebut mengajarkan paham salaf –mengajak umat kepada kemurnian aqidah Islam– dan steril dari pelajaran maupun kurikulum yang mengajarkan paham teroris.

Korupsi dan Terorisme

Apabila institusi pesantren digolongkan sebagai wilayah subur penyemaian ideologi teroris, dengan segala akibat buruknya, bagaimanakah merumuskan kurikulum terorisme, sementara UU anti terorisme belum memiliki definisi spesifik tentang terorisme? Mengaitkan pesantren dengan terorisme, berdasarkan kecurigaan maupun indikator imajinatif, bukankah berarti pemerintah telah bersikap diskriminatif terhadap lembaga pendidikan Islam?

Padahal, bila kita menerapkan logika yang sama pada berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini, terutama bahaya dan malapetaka yang diakibatkannya. Dan percaya, bahwa suatu institusi harus bertanggung jawab terhadap sepak terjang anggota atau alumninya, niscaya pesantren bukanlah satu-satunya institusi yang harus dicurigai, diawasi dan dibatasi ruang geraknya. Partai Politik, Perguruan Tinggi, institusi TNI-Polri, juga termasuk kategori yang harus diteliti dan dibatasi aktivitasnya.


Selama 32 tahun Soeharto berkuasa, Partai Golkar menjadi kendaraan politik rezim Orde Baru. Apa hasilnya? Golkar berhasil merubah tatanan budaya masyarakat Indonesia yang agamis menjadi koruptif, berhasil menjadikan korupsi sebagai bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Ungkapan, bahwa Golkar lah pembuka pintu kemungkaran, yang mewariskan malapetaka dan kebinasaan bagi bangsa Indonesia, bukan hal yang berlebihan. Apakah Golkar memiliki “kurikulum korupsi” dalam pembinaan kadernya, sehingga ratusan koruptor yang sudah dipenjara, hampir semuanya anggota Golkar?

Seharusnya, pada orde reformasi ini, pemerintah melakukan pembatasan terhadap sepak terjang partai berlambang beringin ini. Pemerintah juga harus melakukan kajian intensif berkenaan dengan dosa-dosa Orde Baru, dan memasukkan mantan petinggi Golkar yang terbukti korup, ke dalam berbagai klasifikasi –sebagaimana Golkar pernah mengklasifikasi anggota PKI– lalu membuang mereka ke Pulau Buru, Nusakambangan, dan LP lainnya sesuai dengan klasifikasinya, karena telah melakukan kejahatan terhadap rakyat dan kemanusiaan.

Tetapi, yang terjadi malah sebaliknya. Akbar Tanjung, ketua Golkar saat itu, justru berkesempatan menjabat sebagai Ketua DPR RI. Yusuf Kalla –yang menggantikannya sebagai ketua Golkar– digandeng SBY menjadi Wakil Presiden. Tidak hanya itu, Presiden SBY bahkan mempercayakan seluruh aspek ekonomi dikomandani oleh orang Golkar. Akibatnya, kebijakan-kebijakan di bidang ekonomi tidak satu pun berpihak pada rakyat. Kenaikan harga BBM dan tarif listrik yang diikuti dengan kenaikan tunjangan anggota DPR serta anggaran lembaga kepresidenan, merupakan contoh riel bahwa pemerintah lebih mengutamakan kepentingan kekuasaan daripada kepentingan rakyatnya.

Selain Golkar, yang juga harus dicurigai dan dibatasi ruang geraknya adalah Perguruan Tinggi. Karena terbukti, Perguruan Tinggi telah melahirkan para koruptor ketika mereka menduduki jabatan pemerintahan. Adalah relevan, jika pemerintah berinisiatif melakukan penelitian mengenai “kurikulum nasional”, apakah dalam kurikulum tersebut terdapat muatan materi yang mengajarkan cara-cara korupsi yang produktif dan aman?

Kasus seorang perwira menengah TNI yang membunuh istrinya secara amat sadis di ruang pengadilan agama, saat mengurus proses perceraian, adalah contoh lain lagi. Sang perwira tidak puas atas keputusan Hakim mengenai pembagian harta gono-gini yang nilainya miliaran rupiah, sehingga ia pun menikam istrinya dengan pisau sangkur. Ketika Hakim hendak melerai, sang Hakim pun ditikam hingga tewas di tempat. Dapatkah tindakan kalap perwira ini dijadikan bukti, bahwa institusi TNI memang mengajarkan perilaku sadis dalam kurikulum pendidikannya?

Adanya dugaan, jumlah rekening yang tidak wajar milik sejumlah perwira menengah dan perwira tinggi Kepolisian RI yang diberitakan media massa, yang salah satunya bernilai ratusan miliar rupiah. Apakah hal ini, menunjukkan adanya muatan kurikulum yang mengajarkan –konsep suap menyuap– dalam sistem pembinaan polisi?

Jika mau jujur, institusi di luar pesantren sebenarnya telah banyak melakukan tindak kejahatan terhadap rakyat dan kemanusiaan. Namun, mengapa yang dicurigai justru pesantren? Padahal, dedikasi pesantren di dalam mencerdaskan bangsa dan memenuhi kebutuhan rohaniah umat, sungguh luar biasa. Pesantren lah lembaga pendidikan alternalif yang banyak membantu masyarakat, dengan menampung serta mendidik anak-anak usia sekolah, yang tidak memperoleh tempat di sekolah lain, akibat mahalnya biaya pendidikan. Ironisnya, pesantren kini justru diposisikan sebagai tertuduh yang harus diawasi dan diintimidasi.

Atas Nama Tuhan

Terorisme, dengan mengatasnamakan Tuhan, demi mempertahankan keyakinan, memperjuangkan ideologi, ataupun membela kepentingan politik, bukan sekadar jalan pintas bagi individu atau komunitas tertentu, baik dari kelompok agama maupun kriminal. Tetapi juga, dilakukan para penguasa untuk kepentingan kekuasaan.

Stasiun televisi Inggris, BBC, 24 Oktober 2005, dalam acara bertajuk Israel and the Arabs: Elusif Peace, menguak misteri terorisme yang mempengaruhi jiwa Presiden AS. George Walker Bush. Menteri Penerangan Palestina, Nabil Shaath, mengungkapkan kesaksiannya tentang motivasi utama Presiden AS, George Walker Bush, memerangi terorisme di negeri-negeri Islam.

Pada Juni 2003, dalam suatu pertemuan rahasia dengan petinggi Palestina, Bush melontarkan klaimnya tentang adanya perintah Tuhan untuk memerangi terorisme, Presiden Bush mengatakan pada kami:

Tuhan menyuruh saya, “George pergi dan perangi teroris di Afghanistan.” Itu saya lakukan. “George pergi dan hentikan tirani di Irak.” Ini juga saya lakukan. Dan kini, “bantulah Palestina mendirikan negara sendiri dan bantu Israel menegakkan keamanan dan ciptakan perdamaian di Timur Tengah.” Saya pun mengusahakannya.

Klaim religius yang mengatasnamakan Tuhan terhadap tindakan barbar tentara Amerika dan sekutunya di Afghanistan dan Irak, mendapat kecaman dari Direktur Christian Socialist Movement, Andrew Blackstock. “Bila Bush benar-benar mentaati perintah Tuhan, langkahnya harus dimulai dari apa yang jelas-jelas ada dalam Injil, bukan bisikan-bisikan supranatural seperti itu.”

Jadi, tindakan Bush memerangi terorisme, jelas membawa missi religius. Yaitu, memunculkan trauma dan ketakutan global dengan menyerang seseorang atau sekelompok orang yang diposisikan sebagai musuh Tuhan. Siapakah Musuh Tuhan yang dimaksud George Bush, dan bagaimana ciri-cirinya? Sebagaimana sinyalemen pemimpin Kristen Andrew Blackstock, secara imajinatif sesuai bisikan paranormal, George Walker Bush menemukan identitas Musuh Tuhan, pada kelompok Al-Qaida pimpinan Usamah Bin Ladin, dan Jamaah Islamiyah di Asia Tenggara.

Dalam persepsi George Bush, identitas musuh Tuhan ada dua. Pertama, kelompok Islam yang berusaha membangun tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara berdasarkan syari’at Islam seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. Kedua, merintangi hegemoni AS dan Barat dalam membangun tata dunia baru berwajah imperialis.

Karena itu, Amerika merasa berhak menteror rakyat Afghanistan, dan menggulingkan rezim Saddam Hussein di Irak, sekalipun akibatnya, menghancurkan peradaban serta menghina keyakinan agama kaum Muslimin.

Rasanya, terlalu bodoh apabila pemerintahan SBY-Kalla, memperlakukan pesantren dan gerakan Islam, mengikuti pola-pola Orde Baru. Apalagi jika tindakannya dimotivasi kepentingan asing, sehingga menyebabkan, tidak saja kehilangan identitas agama, tapi juga identitas bangsa yang berdaulat. Ketimbang membuka konfrontasi dengan umat Islam, lebih adil jika pemerintah mendengarkan aspirasi Islam dalam mengelola negara yang sedang terpuruk ini.

Pesan Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang membahayakan orang lain, maka Allah pasti binasakan dia. Dan barangsiapa menyengsarakan manusia, maka Allah akan sengsarakan dia.” (HR. Thabrani)

Adakah mengawasi aktivitas pesantren, mengintimidasi muballigh dan mengaitkannya dengan terorisme, termasuk bagian dari intervensi asing, yang dapat membahayakan dan menyengsarakan bangsa sendiri? Wallahua’lam bis shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: