Habis Orde Baru timbullah Orde Jahiliyah

Habis Orde Baru timbullah Orde Jahiliyah

Oleh : Iwan Joyo S

Sekretaris : Unit Kegiatan Pengembangan Keilmuan (UKPK)

STAIN Jember

Periode 2006-2008

Web site : www.scathzi.multiply.com

Email : Scathzi_07@yahoo.com

Naik Kuda Bersayap

Orang Indonesia makin atraktif dan aneh-aneh. Tak jarang sulit ditebak dan kehilangan nalar kritis. Hanya karena Soeharto salah, tiba-tiba rezim Soekarno dan PKI (Partai Komunis Indonesia) seolah menjadi benar. Lalu publik digiring untuk menoleh masa silam dengan sikap beraroma kultus dan romantisme taklid. Sejarah hanya dibaca dengan kacamata politik dan geneologis, tanpa pemahaman yang luas. Padahal betapa Orde Lama yang ingin dikenang itu sarat nuansa tragedi, selain ada ukiran sukses.

Karena reformasi tak segera membuahkan hasil dan di sana-sini muncul masalah baru, mayat Orde Baru ingin dihidupkan kembali. Banyak orang mulai kejangkitan romantisme cengeng. Ingin kembali ke masa lalu. Seorang calon presiden bahkan menyatakan, orang Indonesia kini rindu masa silam. Maksudnya mungkin Orde Baru, ketika sang calon memang menjadi pelaku setia waktu itu. Malah mulai bermunculan pendapat, masih enak hidup di zaman Orba ketimbang di era reformasi. Padahal jarum sejarah tak bisa diputar ke belakang.

Para elite politik terutama pada calon presiden makin bermunculan dan kian ramah menyapa rakyat. Iklan di koran dan televisi pun bertebaran dengan sunggingan senyum manis. Ternyata Indonesia bukan hanya subur makmur alamnya, bahkan subur dengan para calon presiden yang turun gunung jadi politisi, kendati tak mau disebut politisi.

Padahal siapa pun yang berlomba jadi presiden, ketika itulah dia telah menjadi politisi yang sesungguhnya. Semoga sebelum dan sesudah jadi presiden tetap baik dan tulus hati dalam membela nasib rakyat, seperti ketika mereka beriklan diri.

Pejabat tinggi negara malah bikin lembaga setengah resmi setengah partikelir. Kalau swasta mestinya melekat dengan nama orang semacam Habibie Center atau Amien Rais Center. Kalau resmi kenapa tidak menyerahkan pada institusi pemerintahan lainnya. Padahal, jika mau berbuat sungguh efektif dengan jabatan pemerintahan yang disandangnya.

Fenomena seperti ini mulai mekar pula dengan penghimpitan jabatan publik dan partai politik, yang sulit untuk memisahkannya. Di Cilacap pejabat setempat malah mulai kejangkitan penyakit Orde Baru, memanfaatkan jabatan memobilisasi aparat untuk memenangkan partai politiknya. Ada pula pejabat kerdil, hanya karena takut dituding GAM, malah tak berani mencantumkan gambar Cut Nyak Dien yang pahlawan nasional itu.

Di Yogyakarta sebagian masyarakat dan kaum elite lokal saling bersitegang tentang pengangkatan gubernur dan wakilnya. Satu kubu menginginkan pemilihan, lainnya penetapan. Pengerahan massa pun tak kalah garang dengan di daerah-daerah lain, kendati sering diklaim kalau orang Ngayogyakarta Hadiningrat itu berperangai halus. Para anggota DPRD yang kritis malah dituding goblok dan keblinger. Demokrasi dan keistimewaan diberebutkan dengan tafsirnya masing-masing.

Mungkin, daripada ribut-ribut tak usah ada pemilihan atau penetapan. Bikin saja penobatan. Itu baru namanya istimewa. Sementara di berbagai daerah geliat untuk memperebutkan kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) makin meriah. Ternyata orang daerah juga tak kalah piawai dalam berpolitik dengan orang-orang di Jakarta. Para elite daerah ternyata juga pada memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi.

Tak tahu persis untuk dan atas nama apa sesungguhnya pertaruhan memperebutkan kursi DPD itu. Padahal itu tugas berat untuk mengusung amanat rakyat. Mudah-mudahan pada selamat sampai tujuan. Rupanya alam pikiran dan sikap para elite dan massa makin menukik ke kepentingan-kepentingan praktis kekuasaan. Nilai kegunaan menjadi pilihan dan dambaan.

Pilihan pragmatis semacam itu sesungguhnya tak begitu salah sejauh selaras dengan etika dan kepentingan luas bagi masa depan bangsa. Hanya saja kesan yang kuat justru mengarah pada pragmatisme, serba mementingkan hal-hal sesaat dan praktis semata. Pilihan akan nilai-nilai utama dan luhur menjadi makin menepi dan sempit. Sehingga serba inderawi.

Tengok pulalah bagaimana para penyanyi dangdut karbitan makin atraktif memainkan goyang “liberal” menjurus liar. Semakin dikritik secara moral, semakin menggeliat dan menjadi-jadi. Media cetak dan elektronik pun makin meluap-luap mem-blow-up kebinalan para penyanyi dangdut itu. Para produser makin bergairah menjual kevulgaran.

Tak ada batas moral dan kepantasan, yang ada komoditi erotisme atas nama seni dan kebebasan. Malah ada tokoh agama yang membela kebebasan liar semacam itu. Demokrasi dan kebebasan menjadi dewa baru melebihi agama dan moral. Politik dan politisi pun ikut memanfaatkan. Moral bahkan menjadi terdakwa yang nyinyir, sedangkan keliaran menjadi hidangan yang dianggap benar.

Kita tak ingin berbagai atraksi perilaku praktis dan pragmatis di ruang-ruang publik itu lantas menjadi tradisi yang rendah, mengalahkan tradisi agung dalam budaya masyarakat di negeri ini. Tapi itulah yang terjadi. Semuanya atau banyak yang telah menjadi tradisi rendahan. Menjadi tradisi kecil yang naif dan kerdil. Menjadi tradisi kacangan. Tradisi menghalalkan segala cara. Tradisi pemulung di jalan raya peradaban. Celakanya tradisi buram semacam itu masih pula diselimuti oleh mitos-mitos keadiluhungan.

Tradisi kerdil dan naif itu bahkan menyeruak menjadi kelaziman dalam kebiasaan tukar-menukar kepentingan yang memalukan. Tengoklah bagaimana pemilihan gubernur, wali kota, bupati, dan jabatan-jabatan publik di negeri ini makin marak dengan perangai politik uang dari yang terselubung hingga terang-terangan.

Para anggota Dewan pun terbiasa dikarantina, sehingga menjadi semacam makhluk peliharaan dari kepentingan-kepentingan yang serba menerabas. Banyak hal diperdagangkan demi politik, jabatan, dan kepentingan sempit. Tak peduli kalau uang dan barang-barang yang dipertukarkan itu sesungguhnya atau kebanyakan milik rakyat. Setidak-tidaknya banyak yang merugikan kepentingan hajat hidup rakyat.

Maka tak perlu bertanya soal harga diri dan rasa malu di tengah budaya kerdil dan rendahan seperti itu. “Itu sebuah kegilaan”, kira-kira begitulah kata Foucault, pemikir post-strukturalis dari Prancis. Sebuah kegilaan (madness) dalam wujud kebodohan dan irrasionalitas. Semacam penjungkirbalikan nilai-nilai dalam masyarakat. Benar jadi salah. Baik jadi buruk. Ketakpantasan jadi kelaziman. Makruf jadi munkar.

Muaranya adalah kegilaan itu, yang dalam alur pikir Ronggowarsito disebut zaman edan. Kalau tak ikut edan, tak akan kebagian. Lantas banyak orang terjun menjadi penjarah dan pemuja kepentingan ananiyah. Dunia pragmatisme yang serba di bawah itu telah menghilangkan karisma dan sukma kehidupan nan elok.

Raja telah kehilangan mahkota kemuliaan. Politisi tanpa kenegarawanan. Guru bangsa turun pangkat berebut kepentingan. Tokoh-tokoh wibawa berguguran jadi politisi dadakan. Politik kehilangan tujuan ideal karena mengandalkan uang dan ambisi. Media massa berubah jadi rezim baru pengabdi neo-liberal. Kesenian tanpa keindahan dan hanya menjual kevulgaran.

Para wakil rakyat dan petinggi negara kehilangan ruh amanah. Konservatisme menyuburkan ekstrimitas dan kejumudan. Kebebasan meluap-luap jadi keliaran. Beragama sekadar ritual dan seni pertunjukan spiritual yang kenes. Demokrasi berubah jadi ultra dan sikap anarkhis. Hukum kehilangan supremasi dan keadilan. Teroris mencari teroris seperti maling teriak maling. Kesalahan dan penyimpangan mencari pintu persembunyian hukum. Budaya rakyat kehilangan makna peradaban. Sedangkan kearifan menjadi barang hilang yang sulit ditemukan di penjuru negeri.

Itulah fenomena hilangnya pesona dunia (disenchament of the world) dalam wujud yang luas. Dunia Indonesia yang kehilangan daya tarik keelokan. Sebuah Indonesia yang kultur pelakunya mengalami mati rasa, bahkan menjadi mati suri peradaban. Sementara budaya inderawi yang memuja ambisi, materi, dan kedigdayaan duniawi kian menjadi-jadi. Padahal apa nikmatnya dunia yang kehilangan pesona. Serba tawar dan gersang.

Kita tentu tak ingin para elite dan manusia Indonesia terus meluncur ke martabat rendahan dalam jalan raya peradaban di muka bumi ini. Sebab bila kenaifan dan kekerdilan perilaku seperti itu terus subur maka dikhawatirkan akan menyerupai manusia yang naik kuda bersayap dalam cerita kiasan Plato.

Yakni manusia yang kehilangan sayap akal sehatnya sehingga tak pernah bisa ke atas (peradaban) karena serba dikalahkan oleh keinginan dan nafsunya yang selalu menukik ke bawah (kejatuhan, kehinaan). Manusia yang kehilangan sayap ide kebenaran dan kearifan, karena dikalahkan oleh kuda nafsu dan kepentingan. Menjadi manusia-manusia pengabdi kepentingan inderawi yang kerdil. Itulah sang Sais yang dikalahkan kuda liar tunggangannya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: