ADA APA DENGAN BAITUL ARQOM !!!!!

Posted in SEKRETARIS PUSAT UKPK on Oktober 10, 2008 by ukpkstain

By. Iwan Joyo S

Alumni PP. Baitul Arqom Tahun 2003

CP : 081234513001 / 081358001080

www.scathzi.multiply.com

BAITUL ARQOM

BERDIRI DIATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN

Pendidikan adalah pintu gerbang menuju kesuksesan. Begitu banyak lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan pemerintah juga swasta. Apapun bentuknya tenu memiliki tujuan yang sama seperti dalam UUD 1945 yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa” oleh sebab itu dengan pendidikan / sekolah anak dapat berkembang, tumbuh menjadi sosok pribadi yang memiliki kemandirian.

Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak pribadi yang memiliki kecerdasan intelektual tetapi juga kecerdasan spiritual. Tetapi tidak jarang masyarakat masih salah, dalam mengartikan seperti apa sebenarnya lembaga pendidikan yang disebut pondok pesantren itu, mereka takut jika kelak anak-anak mereka hanya menjadi seorang kiai atau bu nyai setamatnya mereka menuntut ilmu di pondok pesantren. Salah…… salah besar justeru dengan mereka menuntut ilmu di pondok pesantren mereka akan dipandang lebih oleh masyarakat ‘alim karena mereka merupakan generasi-generasi rabbani yang sengaja dibentuk menjadi pribadi-peribadi yang tangguh menghadapi tantangan zaman globalisasi ini.

Apalagi saat ini banyak pondok pesantren misal Pondok Pesantren Baitul Arqam, tidak hanya mengerjakan mengaji kitab-kitab kuning tapi masih banyak hal itu semua disesuaikan dengan bakat dan minat anak-anak didiknya. Dan juga pondok pesantren yang akan dipaparkan di sini adalah salah atu pondok pesantren modern yang sudah terakreditasi dan diakui pemerintah sehingga mereka bias ikut ujian dan lulus dengan nilai yang baik.

Oleh karena itu, salh jika kelulusan pondok pesantren hanya bisa mengaji kitab-kitab gundul / kuning saja tetapi juga dapat menjadi apapun yang mereka harapkan. Jadi, berbangga hatilah jika kelak putra-putri kita dapat melanjutkan pendidikan di sebuah pondok pesantren modern tentunya Balung Jember, yang termasuk pondok pesantren modern cabang dari Pondok pesantren Gontor Ponorogo.

A. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Baitul Arqam

Dahulu ada 3 orang yang sama-sama alumni Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo yang tergugah hatinya untuk mengamaljariyahkan sebagian harta yang dimilikinya, terutama ilmu yang telah diperoleh selama dalam pendidikan di pondok pesantren tersebut kepada umat Islam melalui jalur pendidikan. 3 orang pendiri yaitu KH. Abdul Muid,; K. Jawahir Abdul Mu’in dan K. Mahin Ilyas Hamim.

Minimnya lembaga pendidikan Isalam pada saat itu telah membuat masyarakat Balung dan sekitarnya memasukkan putra-putrinya ke sekolah Kristen yang telah dikenal masyarakat. Saat-saat itulah yang menggugah semangat para pendiri untuk segera mendirikan lembaga pendidikan yang menampung semua golongan dan lapisan masyarakat.

Maka pada tahun 1959 didirikanlah Sekolah Lanjutan Pertama Ats Tsanawiyah Al-Ula, hingga pada tahun 1967 sebagai lanjutan dari Madrasah Tsanawiyah Al-Ula kemudian Madrasah Muallimin. Selanjutnya pada tahun 1986 didirikan pondok pesantren putra dengan sekolah formalnya di MMI (Madrasatul Muallimin Al-Islamiyah) dan tahun berikutnya 1989 untuk pondok pesantren puteri dengan nama MmaI (Madrasatul Muallimat al-Islamiyah) hingga saat ini.

B. Kurikulum

Umumnya pondok-pondok pesantren itu mempunyai tipe tradisional dengan sistem pengajian yaitu dengar mengajarkan kitab-kitab tertentu menurut cirri khas para kyai-nya. Secara dan sorongan dengan bangunan fisiknya terdiri dari rumah-rumah kecil dari usaha para santrinya.

Sedangkan pondok pesantren Baitus- Arqam hanya sekedar memberikan pelajaran dan pendidikan yang merupakan dasar dari semua ilmu pengetahuan, baik umum maupun agama.

Maka dari itu pondok ini mempunyai tipe tersendiri yaitu secara klasikal dengan kurikulum DIKNAS dan DEPAG serta ditambah ekstrakurikulernya, dan saat ini pun mulai menggunakan KTSP

C. Metode Pengajaran Pondok Pesantren

Walaupun kita tahu pada dasarnya pondok pesantren bisa menggunakan sorogan, tetapi karena pondok pesantren Baim-aqram merupakan pondok moderen yang sudah memakai cara klasikal sehingga metode pembelajaran yang digunakan mulai bervariasi, tetapi yang pasti dipakai adalah ceramah, Tanya jawab dan diskusi. Meskipun begiu banyaknya materi pelajaran yang harus ditempuh membuat mereka tidak efektif dalam menerima pelajaran.

D. Strategi Pengajaran Pondok Pesantren

Dari berbagai metode yang digunakan dan kesemuannya menuntut adanya strategi agar metode-metode yang digunakan dapat efektif dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan sama seperti sekolah-sekolah umum. Dalam pondok pesantren juga menggunakan sistem-sistem PAKEM (pengajaran aktif kreatif menyenagkan) yang kemudian disempurnakan menjadi PAIKEM (pengajaran aktif inovatif kreatif efektif menyenagkan). Strategi yang digunakan cukup efektif walaupun masih ada saja santri wali tertidur dikelas. Ada juga strategi yang cukup membantu mereka semangat dalam belajar yaitu dengan melaksanakan pengajaran di sawah (di alam terbuka), Karena dengan begitu membuat mereka lebih kreatif dalam belajar.

E. Pada Rekrutmen Siawa/Santriwati Dan Santriwan

Setiap awal tahun ajaran baru lembaga pendidikan ini mengadakan pendaftaran dan ujian bagi santri baru. Kegiatan ini ditangani oleh panitia khusus yang terdiri dari beberapa guru dan santri kelas VI (3 SMU). Pendaftaran santri baru dibuka mulai tanggal 1 juli sampai dengan 30 juli di kantor MNA1 (kampus sebelah selatan). Diawali dengan kegiatan pengumuman dengan merampung panflet dijalan atau tengah desa bawah. Kemudian membuat selebaran yang diambil, dititipkan kepada masyarakat, setelah itu mereka datang mendaftar dengan memilih beberapa persyaratan, misal: harus tinggal di pondok dan sebagainya. Setelah itu mengikuti ujian hingga menunggu pengumuman hasil ujian dan melakukan daftar ulang.

Jumlah santriwan/santrwati saat ini menerima sebanyak 115 santri putra dan 125 santri putrid, jadai jumlah siswa baru sebanyak 240 santri. Setelah itu masih banyak lagi acara hiburan untuk para santri-santri baru.

- Rekrutmen Gurunya

Untuk merekrut para guru-gurunya selain mengambil dari 10 besar dari para santri yang lulus juga memasang pengumuman dengan beberapa ketentuan.missal sesuai dengan keahlian,memiliki ijazah maksimal S1 dan sebagainya.

F. Pemberdayaan SDM

Untuk meningkatkan kualitas baik dari santri-santrinya,pengajarnya juga para pekerjanya.Ada kegiatan-kegiatan yang mendukung perkembangan pondok pesantren agar Alumninya dapat diakui dan mampu bersaing dengan luar pondok pesantren.

- Kegiatan untuk santri-santrinya yaitu dengan latihan-latihan keterampilan- keterampilan ilmiah,latihan kerja dan praktek berorganisasi,latihan menjadi iman sholat dan Khotib jum,atbimbingan berbicara bahasa arab dan bahasa inggris,latihan berpidato,kepramukaan dan study perbandingan dengan pondok-pondok pesantren lain.

- Kegiatan untuk para pengajar yaitu melakukan rapat-rapat,Musyawarah kerja,seminar-seminar workshop dan sebagainya.

- Kegiatan untuk pekerja diadakan pelatihan-pelatihan untuk menambah keterampilan untuk mereka.

INFO LENGKAP MENGENAI

Pondok Pesantren Baitul Arqom

Jln Karang Duren No 32 Balung Jember Indonesia

Kunjungi : www.scathzi.multiply.com

Sekilas mengenai www.scathzi.multiply.com. Adalah situs salah satu profile Alumni Baitul Arqom Balung jember Indonesia tahun 2003 yang saat ini aktif diberbagai LSM di Kab Jember maupun di organisasi Kemahasiswaan Di Kampus Jember. Situs tersebut dibuat sebagai ajang kreasi alumni Baitul Arqom khusus untuk semua Alumni mulai dari angkatan pertama sampai terakhir. Maka saya tidak bosan bosannya untuk mengajak para alumni Baitul Arqom untuk menyumbangkan segenap pikiran dan tenaga baik itu berupa materi maupun non materi untuk kemajuan Pondok Pesantren Baitul Arqom yang kita cintai

BAITUL ARQOM

BERDIRI DIATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN

By. Iwan Joyo S

Alumni PP. Baitul Arqom Tahun 2003

CP : 081234513001 / 081358001080

www.scathzi.multiply.com

“Al-Qiyadah Islamiyah dan Kaum Liberal”

Posted in SEKRETARIS PUSAT UKPK on Oktober 10, 2008 by ukpkstain

Oleh: Iwan Joyo S (www.scathzi.multiply.com)

Akhir-akhir ini kita disibukkan oleh berita tentang kasus kelompok ”Al-Qiyadah Islamiyah”. MUI, NU, Muhammadiyah, Dewan Da’wah  Islamiyah Indonesia, dan berbagai organisasi Islam lainnya, dengan tegas menyatakan bahwa ajaran kelompok al-Qiyahad Islamiyah adalah sesat dan menyesatkan. Kelompok ini mempunyai syahadat yang berbeda dengan umat Islam. Setelah bersemedi selama 40 hari di sebuah goa di Bogor, pemimpinnya mengaku sebagai nabi dan menerima wahyu dari Tuhan.

Melihat ajaran semacam itu, sebagai Muslim, dengan mudah kita bisa menilai bahwa kelompok itu sesat dan menyesatkan. Tidak perlu terlalu cerdas dan terlalu serius berpikir untuk membuat penilaian semacam itu. Sepanjang sejarah Islam, sudah banyak yang mengaku sebagai nabi, dan selama itu pula, umat Islam dengan mudah menyatakan bahwa mereka semua – yang mengaku sebagai nabi – adalah pendusta.

Dalam keputusannya, Majelis Tarjih Muhammadiyah sudah lama mengingatkan, bahwa orang yang mengimani adanya nabi lagi, sesudah Nabi Muhammad saw, maka kafirlah dia.

Rasulullah saw sudah bersabda:

Di antara umatku akan ada pendusta-pendusta, semua mengaku dirinya nabi, padahal aku ini penutup sekalian nabi.” (HR Ibn Mardawaihi,  dari Tsauban).

Juga sabda Rasulullah saw:

“Perumpamaanku dengan para nabi lainnya sebelumku adalah laksana seorang yang sedang mendirikan bangunan. Maka dibaguskan dan dibuat indah bangunan itu, kecuali satu batu bata (yang belum dipasang) pada salah satu penjurunya. Maka orang-orang mengelilinginya dan merasa heran serta bertanya:“Mengapakah batu bata ini belum dipasang?” Rasulullah saw bersabda: ”Aku inilah bata itu dan aku adalah penutup para nabi.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Dari dua hadits tersebut dan banyak hadits Rasulullah saw lainnya, sangatlah jelas dimana posisi Nabi

Muhammad saw. Beliau adalah penutup para nabi. Sesudah beliau tidak ada nabi lagi. Karena itu, dunia Islam, misalnya, secara tegas menolak penafsiran kelompok Ahmadiyah yang mengimani Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Ketika menjelaskan QS as-Shaf ayat 7, buku Terjemah dan Tafsir Singkat al-Quran yang diterbitkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia tahun 1987 menyebutkan: ”Jadi, nubuatan yang disebut dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah s.a.w., tetapi sebagai kesimpulan dapat pula dikenakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah, sebab beliau telah dipanggil dengan nama Ahmad dalam wahyu (Brahin Ahmadiyah), dan oleh karena dalam diri beliau terwujud kedatangan kedua atau diutusnya yang kedua kali Rasulullah s.a.w.

Ayat ketiga Surah Jumu’ah tegas mengisyaratkan kepada kedatangan kedua Rasulullah s.a.w. telah pula dinyatakan dengan tegas dalam Injil Barnabas, yang dianggap oleh kaum gerejani tidak sah, tetapi pada pihak lain mereka menganggapnya otentik (dapat dipercaya) seotentik setiap dari keempat Injil.” (hal. 1914).

Seperti pernah kita bahas, Ahmadiyah mewajibkan umat Islam untuk mengimani Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Karena itulah, dunia Islam tidak berbeda pendapat dalam masalah ini, bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat. Demikian juga dengan kelompok al-Qiyadah Islamiyah. Kesesatannya sangat jelas dan gamblang. Tidak perlu banyak diskusi tentang masalah ini.

Di tengah situasi seperti ini, sejumlah televise menampilkan sosok-sosok liberal untuk menjadi pembela kelompok Qiyadah Islamiyah. Beberapa kali saya mendapat telepon dan SMS agar menonton tayangan debat antara orang liberal dengan tokoh-tokoh Islam.

Saya sebenarnya sudah agak malas mendengar argumentasi kaum liberal dalam soal seperti ini, karena tidak ada yang baru. Bisa dengan mudah ditebak, mereka akan berbicara tentang relativisme tafsir dan posisi negara yang harus netral terhadap agama.

Orang-orang liberal itu tak bosan-bosannya mengulang-ulang lagu ’relativisme tafsir’.

Mereka selalu menyatakan, tafsir mana yang mau diikuti. Kata mereka, semua orang berhak memiliki pendapat dan tafsir sendiri. Kalau suatu ajaran atau kelompok dinyatakan sesat, maka mereka akan menyatakan, itu sesat menurut siapa? Kelompok Qiyadah Islamiyah memang sesat menurut MUI, tetapi tidak sesat menurut lainnya, kata mereka. Bahkan ada yang menyatakan, yang sesat adalah MUI bukan Qiyadah Islamiyah.

Kita sudah berulangkali membahas dan mengkritik paham relativisme tafsir kaum liberal ini. Tapi, kita sudah paham, bahwa selama ini mereka tidak mau mendengar argumentasi pihak lain. Mereka juga merasa benar dengan pendapatnya sendiri. Sejauh ini, hampir tidak ada gunanya berargumen dengan mereka. Sebab, mereka memang tidak mau mendengar kebenaran dan tidak tidak mengakui adanya satu kebenaran untuk semua manusia.

Jadi, bagaimana bisa sampai kepada kebenaran, jika adanya kebenaran itu sendiri sudah mereka tolak? Pada akhirnya, mereka menjadikan diri mereka sebagai tuhan yang dengan semaunya menafsirkan ayat-ayat Allah sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Saat menonton sebuah debat di TV yang menampilkan seorang pentolan kaum liberal dan ketua Komisi Fatwa MUI pusat, saya berpikir, apakah orang yang mengaku liberal ini tidak takut lagi untuk berhadapan dengan Allah SWT di akhirat nanti? Ataukah dia masih percaya bahwa nanti dirinya akan dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya? Setelah perdebatan itu, saya menerima telepon dan sejumlah SMS yang menyayangkan penampilan tokoh MUI yang terlalu lunak dalam menghadapi orang liberal tersebut.

Dari sinilah kita paham, bahwa liberalisasi Islam memang sudah menjadi tantangan yang sangat serius bagi umat Islam. Sebab, mereka bukan hanya salah, tetapi juga aktif membela yang salah. Karena itu, tidak salah, jika ada yang berujar, bahwa kaum liberal memang spesialis dalam membela yang salah-salah.

Ketika umat Islam menyatakan bahwa Ahmadiyah, agama Salamullah, Qiyadah Islamiyah, pornografi, dan sebagainya adalah paham sesat dan tindakan salah, maka kaum liberal berdiri pada garis depan untuk membela mereka. Begitu juga ketika umat Islam menolak shalat dalam dua bahasa, maka kaum liberal pun membelanya.

Seperti kita ketahui, paham relativisme tafsir adalah pemikiran yang absurd dan konyol. Dengan pemikiran ini, mereka telah menghilangkan otoritas dalam penafsiran. Padahal, ini jelas tidak mungkin. Dalam kehidupan ini, selalu ada otoritas dan standar dalam penilaian sesuatu.  Standar itu tentu didasarkan pada penilaian yang umum dan normal. Pada umumnya, manusia akan menilai bahwa Presiden SBY lebih tampan dibandingkan Thukul Arwana. Pada umumnya manusia akan menilai bahwa Inneke Koesherawati lebih cantik jika dibandingkan dengan pelawak Omas atau Rini Bonbon.

Karena manusia adalah makhluk yang satu, maka manusia bisa mempunyai standar yang satu. Kita bisa melihat, biasanya yang terpilih sebagai Miss Universe adalah wanita yang memang cantik menurut ukuran rata-rata manusia normal. Pada umumnya, kaum laki-laki memang lebih kuat secara fisik ketimbang kaum wanita, sehingga dibuat kategorisasi olah raga antara laki-laki dan wanita.

Dalam logika relativisme ala post-modernist, memang segalanya bisa menjadi relatif. Di rumah sakit jiwa, seorang yang sakit jiwa bisa menuduh dokternya yang gila, bukan dia yang gila. Standar siapa yang digunakan untuk menentukan seseorang itu sakit jiwa atau tidak? Tentulah yang dipakai standar dokter jiwa. Bukan standar orang sakit jiwa.

Pada umumnya dan normalnya orang Islam akan mengatakan bahwa kelompok Qiyadah Islamiyah adalah salah, karena memang sudah keluar dari batas-batas ajaran pokok dalam Islam. Itu umumnya dan normalnya. Tentu kita tidak perlu terlalu mendengar ucapan miring dan ganjil yang menyatakan bahwa Qiyadah Islamiyah adalah juga benar. Pendapat seperti ini adalah pendapat aneh dan syadz. Sepanjang sejarah ada saja pendapat nyeleneh seperti itu.

Islam adalah agama wahyu yang memiliki batas-batas yang jelas. Ada rukun iman dan rukun Islam. Orang yang menolak kenabian Muhammad saw, pastilah sudah berdiri di luar Islam. Agama lain juga memiliki batas-batas atau definisi sendiri. Kaum Kristen yang tidak mengakui otoritas Gereja Katolik dalam penafsiran Bibel, maka dia sudah berdiri di luar agama Katolik, meskipun dia juga mengakui Yesus sebagai Tuhannya.

Karena itu, sangatlah aneh dan absurd dan keliru jika kaum liberal menyatakan, penafsiran apapun terhadap Al-Quran bisa dibenarkan.

Kita menyatakan, ada tafsir yang benar dan ada tafsir yang salah. Tidak semua tafsir bisa dibenarkan? Kalau mereka bertanya, benar menurut siapa? Tentu benar menurut ahli tafsir, orang yang mempunyai otoritas di bidang tafsir. Di sinilah, kita saat ini menghadapi persoalan. Sebab, kaum liberal juga berusaha keras merebut otoritas dalam penafsiran agama. Banyak diantara mereka yang merupakan profesor atau doctor dalam bidang studi Islam.

Dengan otoritas keagamaan yang mereka miliki, kemudian mereka melakukan penyesatan kepada manusia. Dalam hal ini, mereka masuk kategori ulama su’, ulama yang jahat. Ulama yang dengan ilmunya justru menyesatkan manusia.  Di tengah heboh kasus Qiyadah Islamiyah, terbetik berita, Sabtu (27/10/2007), di sebuah vila di Anyer, dilangsungkan sebuah perkawinan antara seorang Muslimah berinisial DA dengan seorang pria Kristen berinisial BM. Menurut saksi mata, prosesi perkawinan itu diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, dilanjutkan dengan Ijab qabul yang dilakukan oleh Dr. Zainun Kamal, dosen UIN Jakarta. Acara berikutnya adalah votum dan salam oleh Pdt Samuel B. Hananto, pembacaan ayat-ayat Bibel, khutbah pendeta dan nyanyian jemaat.

Perkawinan semacam ini tentulah sangat ganjil, baik bagi Islam maupun bagi Kristen. Dalam Islam, perkawinan itu jelas tidak sah.  Kalau ditanya, tidak sah menurut siapa? Tentu menurut Al-Quran, hadits, dan pendapat ulama-ulama yang mu’tabarah, yang punya otoritas. Bukan menurut pendapat yang ganjil seperti Dr. Zainun Kamal tersebut. Meskipun dia doktor dan dosen di Faktultas Ushuluddin Universitas Islam, pendapat dan tindakannya tetap salah dan merusak.

Kita tahu, aktivitas Zainun Kamal dan kawan-kawannya dalam mengawinkan pasangan beda agama, sudah sangat keterlaluan. Mereka sudah secara terbuka dalam mengadakan berbagai aktivitas perkawinan beda agama.

Dan anehnya lagi, tidak ada tindakan apa-apa dari pimpinan kampusnya dan juga pemerintah. MUI juga diam saja. Padahal, perilaku dan tindakan Dr. Zainun Kamal dan kawan-kawannya  dalam merusak Islam tidak kalah jahatnya dibandingkan dengan kelompok Qiyadah Islamiyah. Sebab, dia menyandang otoritas sebagai doktor dan dosen bidang agama Islam.

Wallahu a’lam.

*Diambil dari Kumpulan Tulisan Adian Husaini

*Beliau adalah Pemburu Pengetahuan, Aktifis mahasiswa & Jaringan Islam Kampus Jember.sekaligus Alumni PP.Baitul Arqom Balung Jember (CP: +6281234513001)

“Al-Quran Edisi Kritis”

Posted in SEKRETARIS PUSAT UKPK on Oktober 10, 2008 by ukpkstain

Oleh: Iwan Joyo S (www.scathzi.multiply.com)

Seperti kita bahas dalam dua kali catatan sebelumnya, dalam acara Konferensi Tahunan tentang Studi Islam (ACIS) VII di Riau, 21-24 November 2007, kepada para peserta dibagikan buku murid Nasr Hamid Abu Zaid, yaitu Dr. Nur Kholish Setiawan, yang berjudul Orientalisme, Al-Quran, dan Hadis. Buku ini sebenarnya merupakan kumpulan karangan sejumlah akademisi di UIN Yogya, antara lain Dr. Sahiron Syamsuddin, yang juga alumnus salah satu studi Islam di Jerman.

Dalam buku ini, dimuat artikel pembuka oleh Dr. Nur Kolish yang berjudul “Orientalisme Al-Quran: Dulu, Kini, dan Masa Datang.” Dalam tulisan inilah, kita bisa menikmati pandangan berbagai orientalis terhadap Al-Quran. Dengan sangat bagus dan artikulatif, Nur Kholish menguraikan pemikiran-pemikiran para orientalis Al-Quran, seperti Abraham Geiger, Theodore Nöldeke, Christoph Luxenberg, Reiner Brunner, dan sebagainya. Tapi, sayang sekali, hampir tidak ada kritik yang diberikan terhadap pemikiran para orientalis tersebut. Bahkan, pada beberapa bagian, dia menekankan gagasannya, bahwa Al-Quran yang sekarang dipegang oleh kaum Muslimin masih bermasalah dan perlu dikritisi.

Karena itulah, Nur Kholish mempromosikan gagasan perlunya diterbitkan Edisi Kritis Al-Quran yang telah digagas oleh para orientalis Jerman. Ia menulis:

Apparatus criticus zum Koran, rencana penerbitan edisi kritis Al-Quran yang digagas oleh Gotthelf Bergsträsser serta dilanjutkan oleh Otto Pretzl merupakan indikator akan perhatian terhadap edisi kritis teks Al-Quran, meski upaya tersebut belum bisa terwujud. Munculnya gagasan riset Bergsträsser dilandasi oleh terbitnya cetakan mushaf al-imam edisi Cairo pada tahun 1923 yang menjadi panduan baku umat Islam di seluruh dunia. Sementara, menurut Bergsträsser, penyeragaman baik cara baca, qira’ah, maupun ortografi Al-Quran meniadakan keragamannya, tanpa disertai dengan alasan-alasan akademis yang jelas. Dengan demikian, riset yang belum tuntas tersebut berkeinginan memberikan rekonstruksi terhadap keragaman cara baca dan ortografi Al-Quran yang ”dihilangkan” dalam mushaf edisi Cairo 1923.” (hal. 9).

Sebagaimana dalam tradisi orientalis, dalam tulisannya ini, murid kesayangan Nasr Hamid Abu Zaid ini juga rajin mengungkap data-data pinggiran yang seolah-olah menunjukkan bahwa masih ada masalah dalam Al-Quran. Dia menulis panjang lebar pendapat Brunner yang mengutip sebagian penulis Syiah, bahwa Utsman bin Affan telah melakukan perubahan (tahrif) terhadap Al-Quran. Nur Kholish menulis dengan nada bersemangat untuk menggugat otoritas Al-Quran:

“Data-data yang ditampilkan Brunner mengenai wacana tahrif dalam Syi’ah semenjak abad ke-16 sampai dengan 19 menunjukkan bahwa “perlawanan” kaum Syi’ah terhadap dominasi mushaf Utsman seakan tidak pernah henti. Karya-karya kesarjanaan yang dilahirkan, baik dalam wilayah tafsir, hadits, maupun disiplin keislaman lainnya menjadi pengokoh, bahwa ada something wrong dalam penyusunan, unifikasi dan kodifikasi mushaf yang dilakukan pada kekhalifahan Utsman ibn ‘Affan.”

Karena itulah, pada bagian berikutnya, dosen UIN Yogya ini kemudian menekankan, bahwa proyek untuk mewujudkan Edisi Kritis Al-Quran tersebut masih tetap berjalan hingga kini. Dia menulis:

”Meski demikian, tidaklah berarti bahwa proyek riset mengenai sejarah teks dan ortografinya telah selesai. Sejak tahun 2006, telah muncul proyek penelitian baru yang disponsori oleh Berlin Brandenburgische Akademic der Wissinchaft , sebuah lembaga riset milik pemerintah negara bagian Berlin-Brandenburg, mengenai edisi kritis teks Al-Quran. Proyek ini dilandasi kenyataan bahwa Al-Quran edisi kritis sampai saat ini belum ada. Sedangkan tujuan dari proyek ini bukanlah untuk menggantikan teks Al-Quran edisi cairo 1923 yang sampai sekarang menjadi satu-satunya mushaf yang beredar di seluruh penjuru Muslim. Sebaliknya, proyek dimaksudkan untuk menampilkan dokumentasi teks yang dijadikan sebagai pijakan dimungkinkannya melakukan kritik teks. Disamping itu, ia juga dimaksudkan dijadikan pijakan telaah sejarah teks, khususnya dalam kaitannya dengan keragaman tradisi lisan dan tulisan. Sedangkan tujuan yang ketiga adalah menjadikan dokumentasi teks tersebut sebagai pijakan melakukan sesuatu yang “belum lazim” dalam kesarjanaan Muslim, yakni proses kesejarahan dan proses perkembangan teks Al-Quran itu sendiri.” (hal. 38-39).

Lebih jauh dijelaskan oleh Nur Kholish, bahwa pijakan riset yang digunakan oleh proyek ini adalah upaya yang telah dilakukan oleh Otto Pretzel, Bergsträsser dan Arthur Jeffery yang telah mengumpulkan qira’ah syadz dalam pembacaan Al-Quran serta jenis tulisan yang beragam dalam manuskrip Al-Quran.

“Uraian di atas menunjukkan bahwa kajian Al-Quran dalam kesarjanaan non-Muslim cukup dinamis dan berkesinambungan. Temuan-temuan sarjana pendahulu semisal Geiger, Noldeke, dan beberapa nama lain terus-menerus dielaborasi oleh para sarjana berikutnya. Terlepas dari motif yang melatarbelakangi, nuansa akademik yang bisa ditangkap adalah penggunaan pelbagai metode dan pendekatan dalam melakukan pengkajian terhadap Al-Quran. Dalam wilayah ini, Al-Quran tidak ditempatkan pada wilayah yang “sakral” dan sarat dengan pelbagai nilai keutamaan religius, seperti yang diyakini oleh umat Muslim, melainkan ditempatkan sebagai sesuatu yang bisa disentuh dengan pendekatan sosial-humaniora, sejarah pada khususnya. (hal. 38-40).

Begitulah uraian Dr. Nur Kholish Setiawan tentang gagasan Al-Quran Edisi Kritis, atau Edisi Kritis Al-Quran. Seperti kita ketahui, ide membuat Edisi Kritis Al-Quran di Indonesia, pernah dilontarkan oleh Taufik Adnan Amal, dosen UIN Makasar yang juga pernah kuliah di Jerman. Di dalam buku Wajah Liberal Islam di Indonesia terbitan Jaringan Islam Liberal (2002:78) dimuat sebuah tulisan berjudul “Edisi Kritis Alquran”, karya Taufik Adnan Amal. Tulisan itu memberikan gambaran bahwa masih ada persoalan dengan “validitas” teks Alquran yang oleh kaum Muslim telah dianggap tuntas.

Rencana penulisan Al-Quran Edisi Kritis itulah yang kemudian dikritik oleh Dr. Ugi Suharto, melalui dialog langsung dengan saudara Taufik Adnan Amal. Dalam soal qiraat, misalnya, Taufik mengajukan pemikiran tentang perlunya digunakan qiraat pra-Utsmani. Dalam emailnya kepada Dr. Ugi, Taufik menulis:

“Kenapa qiraat di luar tradisi utsmani digunakan? Alasannya sederhana sekali: kiraat pra-utsmani terkadang memberikan makna yang lebih masuk akal dibanding Idalam tradisi teks utsmani. Saya ingin mengulang kembali contoh yang pernah dikemukakan Luthfi dalam postingnya yang terdahulu: Bacaan “ibil” (unta, 88:17) dalam konteks 88:17-20, sangat tidak koheren dengan ungkapan “al-sama’” (langit), “al-jibal” (gunung-2), dan “al-ardl” (bumi). Dalam bacaan Ibn Mas’ud, Aisyah, Ubay, kerangka grafis yang sama dibaca dengan mendobel “lam”, yakni “ibill” (awan). Bacaan pra-utsmani ini, jelas lebih koheren dan memberikan makna yang lebih logis ketimbang bacaan mutawatir ibil. Demikian pula, bacaan Ubay dan Ibn Mas’ud “min dzahabin” untuk 17:93, memiliki makna yang lebih tegas dibanding bacaan “min zukhrufin” dalam teks utsmani. Masih banyak contoh lainnya yang bisa dielaborasi untuk butir ini.”

Lalu, terhadap gagasan ini, Dr. Ugi menjelaskan kepada Taufik Adnan Amal:

”Contoh-contoh qira’ah yang Anda kemukakan untuk dijadikan Quran Edisi Kritis itu sudah diketahui oleh para sarjana. Mereka tidak keliru seperti Anda, dengan mencampur-adukkan antara qira’ah dan Al-Quran. Contoh “ibil” dengan “ibill” yang Anda pilih juga sudah diketahui lama oleh mereka. Lihat saja dalam tafsir al-Qurtubi yang bagi Anda menterjemahkannya itu sama dengan status quo alias mandeg. Saya akan buktikan bahwa Anda belum melampaui apa-apa dari Imam al-Qurtubi itu dan Anda mungkin belum membacanya juga mengenai “ibil” (takhfif) dan “ibill” (tatsqil) disitu. Dalam tafsir itu dikatakan oleh imam al-Mawardi bahwa perkataan “ibil” (takhfif) mempunyai dua makna: pertama unta, dan yang kedua awan yang membawa hujan. Dari sini kita berkesimpulan bahwa rasm “ibil” itu bisa memuat makna unta dan awan sekaligus, sedangkan apabila ditulis “ibill” (tatsqil) ia hanya memuat makna awan semata-mata. Jadi mana yang lebih komprehensif menurut “akal” Anda? Satu lagi, menurut al-Qurtubi perkataan “ibil” itu mu’annats (feminin) oleh itu sesuai dengan ayatnya “khuliqot“. Bagaimana dengan “ibill”?”

Demikianlah, kita bisa melihat, bahwa gagasan untuk membuat Al-Quran Edisi Kritis yang dimunculkan oleh para orientalis Jerman dan murid-muridnya di Indonesia ternyata masih terus disebarkan. Jika dulu gagasan seperti ini hanya tersimpan di buku-buku orientalis Yahudi-Kristen di pusat-pusat studi Al-Quran Barat, kini gagasan itu mulai diusung secara resmi dalam ruang kuliah di kampus Islam dan forum Konferensi Tahunan Studi Islam di Indonesia. Kita patut kagum terhadap para orientalis yang telah berhasil mendidik kader-kadernya dengan baik, sehingga menjadi penyambung lidah mereka.

Sebenarnya, kita yakin, para murid orientalis Yahudi-Kristen ini tidak akan mampu mewujudkan Al-Quran Edisi Kritis. Barangkali, mereka juga sadar akan hal itu, karena untuk ini mereka sangat tergantung kepada ”tuan-tuan” mereka di Barat. Hanya saja, sepak terjang mereka sepertinya lebih ditujukan untuk menebar virus keraguan (tasykik) terhadap otentisitas Al-Quran.

Kepada penggagas Al-Quran Edisi Kritis, Dr. Ugi Suharto juga mengingatkan nasehat Abu ‘Ubayd yang pernah berkata: “Usaha Utsman (r.a.) mengkodifikasi Al-Quran akan tetap dan sentiasa dijunjung tinggi, karena hal itu merupakan sumbangannya yang paling besar. Memang di kalangan orang-orang yang menyeleweng ada yang mencelanya, namun kecacatan merekalah yang tersingkap, dan kelemahan merekalah yang terbongkar.”

Mushaf Utsmani adalah satu-satunya Mushaf Al-Quran yang telah disepakati seluruh kaum Muslim, sejak awal, hingga kini, dan sampai akhir zaman. Para sahabat, termasuk Ali r.a. pun semua menyepakati otoritas Mushaf Utsmani. Dalam bukunya, Metodologi Bibel dalam Studi Al-Quran: Kajian Kritis (2006), Adnin Armas, telah banyak mengklarifikasi pemikiran-pemikiran para orientalis yang meragukan otentisitas Al-Quran. Sayyidina Ali sendiri menyatakan: ”Seandainya Utsman belum melakukannya, maka aku yang melakukannya.”

Kita bisa memahami jika para orientalis Yahudi-Kristen berusaha meruntuhkan otoritas Al-Quran, karena Al-Quran adalah satu-satunya Kitab yang memberikan kritik secara mendasar terhadap Kitab mereka. Karena itu, meskipun mereka bertahun-tahun mendalami Al-Quran, tetap saja mereka tidak beriman kepada Al-Quran. Tetapi, kita tidak mudah memahami, mengapa ada orang dari kalangan Muslim yang berhasil dicuci otaknya sehingga menjadi penyambung lidah para orientalis untuk menyerang Al-Quran. Kita patut kasihan, jauh-jauh belajar Al-Quran ke luar negeri akhirnya pulang ke Indonesia justru menjadi ragu dan menyebarkan keraguan tentang Al-Quran. Mudah-mudahan kita semua terhindar dari ilmu yang tidak bermanfaat; yakni ilmu yang tidak membawa kepada keyakinan dan ketaqwaan. Amin.

[Jakarta, 7 Desember 2007/www.hidayatullah.com]

*Diambil dari Kumpulan Tulisan Adian Husaini

*Beliau adalah Pemburu Pengetahuan, Aktifis mahasiswa & Jaringan Islam Kampus Jember.sekaligus Alumni PP.Baitul Arqom Balung Jember (CP: +6281234513001)

“37 Tahun Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia”

Posted in SEKRETARIS PUSAT UKPK on Oktober 10, 2008 by ukpkstain

“37 Tahun Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia”

Oleh: Iwan Joyo S (www.scathzi.multiply.com)

Pada 3 Februari 2007 mendatang, Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir, bertempat di Jalan Kramat Raya 45 Jakarta, akan menggelar satu acara seminar nasional bertema “Evaluasi 37 tahun Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia.” Tampil sebagai pembicara adalah Dr. Daud Rasyid, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Dr. Mukhlis Hanafi, dan Adnin Armas MA. Seminar ini memiliki makna yang penting bagi umat Islam Indonesia, mengingat, setelah 37 tahun berlalu, gerakan pembaruan Islam bukannya telah berhenti, tetapi semakin menjadi-jadi dan melebar ke mana-mana.

Masa 37 tahun Gerakan Pembaruan Islam dimulai ketika Nurcholish Madjid memulai pidatonya pada 3 Januari 1970 di Jakarta dengan judul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat.” Dalam disertasinya di Monash University Australia  yang diterbitkan oleh Paramadina dengan judul “Gagasan Islam Liberal di Indonesia”, Dr. Greg Barton menyebutkan, bahwa melalui makalahnya tersebut, Nurcholish dihadapkan pada satu dilema dalam tubuh umat. Di satu sisi, masyarakat Muslim harus menempuh arah baru, namun di sisi lain, arah baru tersebut berarti mengorbankan keutuhan umat.

Muslim Indonesia, kata Nurcholish, secara intelektual telah cukup tertinggal dan membutuhkan gairah baru serta gagasan-gagasan segar; meskipun gairah intelektual tersebut akan membawa perpecahan di tubuh umat, seperti yang diperlihatkan oleh berbagai rangkaian sejarah. Untuk mendukung gagasannya, Nurcholish Madjid mengutip pemikiran yang dikembangkan Lenin; “Betapa pun dinamika lebih menentukan daripada statisme, sekalipun yang terakhir ini meliputi jumlah besar manusia.”

Nurcholish juga meminjam pikiran Andrea Beufre: “Garis-garis pemikiran tradisional kita sudah seharusnya dipersilakan pergi ke laut, lantaran yang paling utama sekarang adalah kemampuan menatap ke muka ketimbang memiliki tingkat kekuatan yang besar namun hasil-gunanya masih penuh persoalan.”

Marilah kita renungkan kembali lagi kata-kata Nurcholish Madjid 37 tahun lalu berikut ini:

“Dari ungkapan tersebut kita hendak menarik pengertian bahwa pembaruan harus dimulai dengan dua tindakan yang saling erat hubungannya, yaitu melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan. Nostalgia, atau orientasi dan kerinduan pada masa lampau yang berlebihan, harus diganti dengan pandangan ke masa depan. Untuk itu diperlukan suatu proses liberalisasi. Proses itu dikenakan terhadap “ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan Islam” yang ada sekarang ini…”

Jadi, untuk menatap masa depan dan meninggalkan nilai-nilai tradisional, menurut Nurcholish Madjid, maka harus dilakukan liberalisasi terhadap ajaran-ajaran dan pandangan Islam. Ada tiga proses yang saling kait-mengait dalam masalah ini, yaitu (1) sekularisasi, (2) kebebasan intelektual, dan (3) “Gagasan mengenai kemajuan” dan “Sikap Terbuka”.Tidak bisa dipungkiri, Nurcholish Madjid menjadi faktor penentu bagi perkembangan gerakan pembaruan Islam di Indonesia. Pertama, karena kepiawaian komunikasi Nurcholish baik lisan maupun tulisan. Dan kedua, karena Nurcholish berlatar belakang pendidikan studi Islam dan memulainya dari dalam tubuh organisasi Islam. Ini berbeda misalnya, dengan gagasan sekularisasi yang dilakukan Soekarno. Meskipun sangat piawai dalam komunikasi, Soekarno bukanlah berkatar belakang pendidikan Islam, dan bukan tokoh organisasi Islam.

Dengan kepiawaiannya berkomunikasi, Nurcholish dan ide-idenya masih terus dikembangkan, dan telah disucikan oleh sebagian kalangan. Majalah Media Dakwah edisi Januari 2007 menurunkan laporan utama tentang barisan cendekiawan Gontor yang mengkritik pemikiran Nurcholish Madjid, yang juga alumni pesantren Gontor. Barisan ini dimotori oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Dr. Syamsuddin Arif, Adnin Armas MA, Fathurrahmkan Kamal MA dan Henry Shalahuddin MA. Para cendekiawan ini secara sistematis dan akademis menguraikan kekeliruan gagasan pembaruan Islam Nurcholish Madjid.

Sebelumnya, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, telah menulis artikel di Harian Republika, 28 Desember 2006, dengan judul “Menyoal Pembaruan Islam”. Hamid menguraikan dengan jelas, bagaimana pengaruh modernisme terhadap gagasan pembaruan Islam, dan merancukannya dengan pengertian tajdid. Pembaruan sering diterjemahkan menjadi modernisasi dan kini bahkan menjadi liberalisasi.

Padahal tajdid berbeda dari modernisasi ataupun liberalisasi baik secara etimologis maupun konseptual. Malangnya, perbedaan ini tidak dicermati, dan konsep-konsep di dalamnya buru-buru diadopsi tanpa proses epistemologi yang jelas. Pembaruan pemikiran Islam yang dimotori Nurcholish Madjid dan kini bergulir menjadi proyek liberalisasi Islam di Indonesia adalah contoh yang paling jelas. Pembaruan dimaksud ternyata secara eksplisit mengusung, memodifikasi, atau menjustifikasi konsep modernisme, sekularisme, dan rasionalisme.

Menurut Hamid, pengaruh paham modernisme dalam pemikiran Nurcholish lebih jelas lagi ketika ia mengambil unsur utama modernisasi, yaitu sekularisasi untuk memahami agama. Sekularisasi menurutnya adalah menduniawikan masalah-masalah yang mestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat Islam untuk mengukhrawikannya. Gagasan ini kemudian diperkuat dengan ide liberalisasi pandangan terhadap ajaran-ajaran Islam yang intinya memandang negatif terhadap tradisi dan kaum tradisionalis. Ternyata gagasan ini mengadopsi pemikiran Harvey Cox dan Robert N Bellah, pencetus gagasan sekularisasi dalam Kristen. Tidak ada modifikasi yang berarti di situ. Ia hanya mencarikan justifikasinya dari dalam ajaran Islam.

Dalam laporannya, Majalah Media Dakwah edisi Januari 2007 menurunkan sejumlah artikel dari para cendekiawan alumni pesantren Gontor yang membuktikan, bahwa ide-ide pembaruan Islam Nurcholish Madjid adalah gagasan yang dikembangkan oleh para pemikir Kristen-Barat yang berangkat dari pengalaman sejarah dan keagamaan Kristen di Barat. Adnin Armas membuktikan adopsi gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid dari pemikir Kristen Harvey Cox. Fathurrahman Kamal, dalam tesis masternya di UIN Yogyakarta, membuktikan pengaruh pemikiran pendeta Wilfred Cantwell Smith terhadap teori “Islam” versi Nurcholish Madjid. Henry Shalahudin yang kini menjadi dosen di STID Moh. Natsir, mengupas kekeliruan ide “relativisme” Nurcholish Madjid. Sementara, Dr. Syamsuddin Arif –yang sedang menulis disertasi untuk doktor keduanya di Frankfurt Jerman — menulis satu artikel bernas yang mengupas kekeliruan gagasan sekularisasi.

Banyak kritik ilmiah telah ditulis terhadap gagasan pembaruan Islam. Tetapi, memang, harus diakui, selama puluhan tahun, Nurcholish mampu mamukau bahkan nyaris “menyihir” banyak orang dan kalangan, sehingga pemikirannya dikultuskan, sosoknya dimitoskan, dan dibela habis-habisan. Dan itu diakui, misalnya, oleh Henry Shalahuddin, yang selama sembilan tahun belajar di lingkungan Gontor, mulai dari tingkat pesantren sampai sarjana ushuluddin.

Henry menulis di Media Dakwah, bahwa selama berada di Gontor, sosok Prof. Dr. Nurcholish Madjid merupakan idola yang menakjubkan. Bahkan, menurut Henri, ketakjuban itu selama ini juga terjadi pada banyak santri, mahasiswa, guru dan alumni Pondok Modern Gontor lainnya. Nurcholish merupakan sosok yang mumpuni dalam ilmu keagamaan, terbuka dalam berdiskusi, berwawasan luas yang didukung dengan kemampuan beretorika dan mengolah kata ketika menyampaikan ceramah, sehingga para hadirin pun kerap terpukau dibuatnya. “Sejujurnya, inilah mitos yang terbangun pada diri saya,”kata Henri Shalahuddin, mengawali tulisannya yang mengkritik paham relativisme keagamaan Nurcholish.

Namun, setelah semakin banyak menyelami bidang pemikiran Islam, khususnya setelah menyelesaikan kuliahnya di program S-2 International Islamic University Malaysia (IIUM), Henri tersadar, bahwa pendangannya selama ini terhadap Nurcholish Madjid adalah keliru. Nurcholish tidak lagi tokoh yang dianggapnya sebagai sosok yang sakral dan selalu benar. Bahkan, seperti umumnya manusia, ia kerap lalai dan khilaf termasuk dalam pemikirannya yang selama ini ia kagumi. “Bahkan akhirnya saya memahami bahwa pemikiran Nurcholish acapkali membawa konsekwensi yang serius bagi bangunan Islam,” kata Henri.

Kasus Henri adalah salah satu contoh nyata bagaimana sosok Nurcholish Madjid memang telah menjadi mitos pada sebagian orang. Nurcholish memang telah meninggal dunia pada hari Senin, 29 Agustus 2005, lalu. Jasadnya telah dikubur di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Secara fisik, Nurcholish Madjid telah tiada. Tetapi, tampaknya, pemikirannya tidak mati bersamanya. Gagasan-gagasannya terus dijadikan rujukan dan dihidup-hidupkan oleh para pendukung dan pengikutnya.

Pada Hari Jumat, 22 Desember 2006, Dawam Rahardjo, seorang pendukung setia Nurcholish Madjid, menulis satu ulasan di Harian Kompas berjudul: “Pembaruan Islam: Ensiklopedia Nucrholish Madjid.”Di sini, Dawam menilai, para pengkritik Nurcholish Madjid selama ini, termasuk Prof. HM Rasjidi, telah salah memahami gagasan Nurcholish Madjid, khususnya dalam soal sekularisme dan sekularisasi. Penjelasan Dawam tentang sekularisasi masih mengulang argumentasi Nurcholish Madjid, bahwa sekularisasi adalah proses yang terus berlanjut dan bukan merupakan paham yang statis. Atau, sekularisasi adalah sekularisme yang terbatas.

Ensiklopedia Nurcholish Madjid ini disebut oleh Dawam Rahardjo sebagai suatu upaya sistematisasi tentang “Nurcholisisme”. Dawam tetap menyimpulkan: “Nurcholish tidak sekedar menjadi tokoh pembaru pemikiran Islam, tetapi juga seorang guru bangsa.”

Jadi, Nurcholish memang telah tiada. Tetapi, oleh pendukung gerakan pembaruan Islam –yang kemudian dilanjutkan oleh gerakan liberalisasi Islam — dia tetap dijadikan sebagai tempat bergayut. Namanya diabadikan. Gagasan-gagasannya terus diapresiasi, dipuji, dan disebarluaskan ke tengah masyarakat luas. Bahkan, sepertinya, peristiwa meninggalnya Nurcholish terus dijadikan momentum untuk melestarikan dan menghidupkan gagasan-gagasannya.

Masa 37 tahun Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia sudah memadai untuk melakukan penilaian ulang secara mendasar dan menyeluruh. Gagasan dan akibat-akibat lebih jauh dari gagasan sekularisasi dan liberalisasi Islam –baik di masyarakat maupun di perguruan tinggi Islam– sudah dapat dilihat dengan jelas. Proses ini tidak akan berhenti, sebab sebagai bagian dari umat manusia yang mendiami dunia ini, umat Islam juga sedang berhadapan dengan arus dan gelombang modernisme. Semua manusia dan agama menghadapi masalah yang sama.

Modernitas adalah kenyataan dan adalah mustahil untuk melarikan diri dari modernitas tersebut. Lawrence E. Cahoone, dalam bukunya The Dilemma of Modernity (1988), menggambarkan hegemoni modernitas tersebut bagi umat manusia. Sejak masa renaissance, manusia yang hidup di Barat sudah harus hidup dalam alam modernitas, laksana ikan yang hidup di air. Tapi, bagi masyarakat non-Barat, kata Cahoone, mereka juga dipengaruhi oleh budaya modernitas dengan kuat.

Through colonialism, trade, and the export of ideology, the modern West has injected components of its own civilization into the indigenous cultures of non-Western societies,” tulis Cahoone. Karena itu, ujarnya, semua manusia dipengaruhi paham modernitas ini, baik secara langsung maupun tidak.

Inti modernitas, menurut pakar sosiologi Max Weber, adalah rasionalisasi, yang mensyaratkan adanya sekularisasi. Di Barat, kata David West, dalam bukunya “An Introduction to Continental Philosophy”, (1996), rasionalisasi selalu dikaitkan dengan proses sekularisasi yang oleh Weber disebut “dis-enchantment.”Masyarakat modern memang menempatkan akal manusia sebagai penentu kebenaran, bukan lagi agama, dan menjadikan agama sebagai urusan pribadi. Alain Touraine, dalam bukunya “Critique of Modernity” (1995), menulis, “The idea of modernity makes science, rather than God, central to society and at best relegates religious beliefs to the inner realm of private life.”

Gagasan-gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid bisa dengan mudah dilacak pada gagasan sekularisasi yang sudah dikembangkan oleh para pemikir di Barat. Tetapi, harusnya kaum pembaru Islam sadar, bahwa Islam tidak sama dengan agama Kristen, Yahudi, atau agama lain yang merupakan agama budaya dan sejarah (historical and cultural religion). Islam adalah agama final dan sempurna dari awal. Umat Islam memiliki teks kitab suci yang final, yang terjaga otentisitas teks dan maknanya, sepanjang sejarah. Umat Islam juga tidak mengalami problem sejarah keagamaan seperti yang dialami oleh kaum Kristen di Eropa.

Inilah kesalahan fatal dari gerakan pembaruan Islam: menyamakan karakter ajaran Islam dan sejarah Islam dengan karakter ajaran Kristen dan sejarahnya di Barat. Karena itu, gagasan sekularisasi –juga liberalisasi Islam– sebenarnya paham yang asing, tetapi dipaksakan kepada umat Islam dengan berbagai cara.

Memang, sekularisasi, westernisasi, atau liberalisasi Islam, saat ini merupakan masalah dan tantangan terberat yang dihadapi oleh umat Islam. Para ulama dan cendekiawan Muslim tidak boleh lengah dan “cuek”. Mereka harus memberikan respon yang cerdas dan serius tentang masalah ini.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

(Depok, 19 Januari 2007/ www.hidayatullah.com)

*Diambil dari Kumpulan Tulisan Adian Husaini

*Beliau adalah Pemburu Pengetahuan, Aktifis mahasiswa & Jaringan Islam Kampus Jember.sekaligus Alumni PP.Baitul Arqom Balung Jember (CP: +6281234513001)

Antara Inul, Hitler, dan Machiaveli

Posted in KUMPULAN ARTIKEL on September 16, 2008 by ukpkstain

Oleh : Iwan Joyo.s *

www.scathzi.multiply.com

Jumat (12 September 2003), Wakil Sekjen PDIP, Pramono Anung, membuat pernyataan yang kemudian banyak dikutip oleh media massa. Yakni, PDIP akan menjadikan Inul Daratista sebagai ikon partai. Menurut Pramono, memilih Inul sebagai ikon PDIP merupakan salah satu keuntungan, karena partai-partai Islam tak mungkin bisa melakukan hal serupa. Memilih Inul sebagai ikon partai, lanjut, merupakan strategi yang dipilih PDIP dalam merebut hati rakyat. Dalam Pemilu mendatang, yang terjadi sebenarnya pertarungan pencitraan partai. Jadi masalahnya adalah bagaimana partai bisa merebut hati rakyat.

Barangkali, sebagian orang menilai, ungkapan Wakil Sekjen DPP PDIP itu sebagai hal yang biasa-biasa saja. Sebab, dalam politik, yang terpenting adalah “kepentingan” atau “interest”, sehingga banyak sekali yang mengutip ungkapan “tidak ada kawan yang abadi dalam politik”, yang ada hanyalah “kepentingan yang abadi.” Orang bisa berteman dalam politik karena kepentingan yang sama, dan bisa bertengkar karena factor kepentingan juga. Banyak yang kemudian percaya, bahwa politik adalah bebas moral, dan karena itu, tujuan menghalalkan segala cara (al-ghayah tubarrirul wasiilah atau targets justify means). Tampaknya, karena dianggap sebagai hal biasa itulah, maka media massa kita kemudian tidak menjadikan ungkapan Wakil Sekjen PDIP itu sebagai berita-berita penting.

Padahal, jika ditelaah lebih jauh, ungkapan itu adalah sangat serius, karena mengandung makna sejarah dan filosofi yang mendalam. Inilah yang dalam sejarah dikenal sebagai politik Machiavelis. Politik yang menghalalkan segala cara. Jika partai terbesar di Indonesia sudah menggunakan cara-cara seperti ini, maka patut dipertanyakan, inikah demokrasi yang diinginkan oleh bangsa Indonesia, yang katanya, bersifat religius dan mendasarkan dirinya pada Ketuhanan yang Maha Esa. Tuhan yang mana yang meridhai tindakan mempertontonkan aurat dan erotisme secara vulgar? Jika Inul, yang kemudian menjelma menjadi symbol erotime dalam kesenian, lalu dijadikan ikon sebuah partai, mau kemanakah moralitas bangsa Indonesia akan dibawa? Bukan hanya dari segi moral, dari segi ketinggian selera kesenian pun patut dipertanyakan.

Apa arti Ikon? Dalam bahasa Inggris, kata ini ditulis sebagai “icon” yang dalam Kamus American Heritage Dictionary diartikan sebagai: “A religious image painted on a panel”. Hassan Shadili menerjemahkannya ke bahasa Indonesia sebagai “patung/gambar orang suci”. Kamus al-Mawrid menerjemahkan kata “icon” ke dalam bahasa Arab sebagai (1) timtsal (2) iqanah (3) ma’bud. Jadi, kata ikon, memang memiliki konotasi keagamaan, bahkan ada konotasi penghormatan yang sangat tinggi, pengagungan, atau bahkan penyembahan, atau ibadah. Jika kamus al-Mawrid dipakai, maka salah satu artinya adalah al-ma’bud, yang disembah. Jadi, kalimat “menjadikan Inul sebagai ikon partai”, bisa bermakna, “menjadikan Inul sebagai sesembahan”.

Tentu, kita bertanya, mengapa Inul dipuja dan ditempatkan dalam kedudukan yang begitu terhormat, melebihi para cendekiawan dan pemikir? Apakah Inul lebih berharga ketimbang Kwik Kian Gie, Laksamana Sukardi, Rizal Mallarangeng, atau Ir. Pramono Anung dan cendekiawan lainnya? Mengapa Inul jadi Ikon partai, jawabannya, adalah karena Inul diharapkan dapat mendatangkan suara untuk partai. Show Inul selama ini terbukti sangat diminati pengunjung. Ribuan orang datang untuk menyaksikannya. Berbagai produk juga menampilkannya sebagai bintang iklan. Stasiun TV berebut menampilkannya, karena mudah meraup untung.

Ringkasnya, Inul adalah mesin penarik uang yang terbukti ampuh, dan nanti akan dicoba untuk dijadikan sebagai mesin penarik kekuasaan. Jika rencana ini akan menjadi kenyataan, kita akan menyaksikan sebuah panggung politik yang memprihatinkan. Partai yang bertanding masih mengandalkan unsure-unsur emosional dan irasional, bukan menawarkan program dan kredibilitas calon pemimpin bangsa.

Dalam sejarah demokrasi di Eropa, fenomena seperti ini bukan hal baru. Para politisi menjual ide-ide yang sebenarnya membahayakan moral masyarakat, tetapi justru mendapat dukungan luas. Lihatlah bagaimana Hitler (hidup antara tahun 1889-1945) dapat berkuasa di Jerman. Gagal melakukan kudeta pada tahun 1923, dan masuk penjara, Hitler kemudian menyadari pentingnya jalur demokratis untuk menyebarkan gagasan-gagasannya dan meraih kursi kekuasaan. Ia pun menggunakan kepandaiannya dalam aksi propaganda untuk menarik dukungan mssyarakat luas.

Dari segi akal sehat, adalah sulit dibayangkan, rakyat Jerman ketika itu mendukung Hitler dan memilih Nazi (National Socialist German Worker’s Party). Mengapa? Sebab, yang dijual Nazi ketika itu adalah ide-ide yang sangat mengerikan dan sangat anti-kemanusiaan. Melalui bukunya, Mein Kampf (My Struggle) yang ditulisnya dalam penjara, Hitler mengemukakan gagasan nasionalis radikal dengan basis ras (racial natinalism). Hitler membagi manusia ke dalam dua jenis ras, yaitu ras yang superior dan ras yang inferior. Hitler menggambarkan ras Aria dan ras Yahudi sebagai “the men of God and the men of Satan”. Ia katakan: “The Jew is anti-man, the creature of another god. He must have come from another root of the human race. I set the Aryan and the Jew over and against each other.”

Siapa pun tahu, bahwa gagasan-gagasan Hitler dan Nazi seperti itu merupakan ide eksrim dan gila. Tapi, apa yang terjadi? Rakyat Jerman yang ketika itu ditimpa krisis ekonomi, terimbas depresi tahun 1929, malah mendukung Hitler. Tahun 1028, parytai Nazi hanya meraih suara 810.000. Tetapi, tahun 1930, berhasil meraih suara 6.400.000. Pada pemilu 31 Juli 1932, Nazi menjadi pemenang dengan suara 37,3 persen dan meraih 230 kursi di parlemen. Tetapi belum menjadi mayoritas mutlak. Dengan modal suara itulah, pada 30 Januari 1930, Hitler diangkat menjadi chancellor (Kanselir) Jerman. Ia didukung para industriawan, aristocrat pemilik tanah, yang mengharapkan, Hitler akan melawan komunisme, membubarkan organisasi buruh, dan meningkatkan industri militer. Pada pemilu Maret 1933, Nazi meraih 288 dari 647 kursi parlemen. Ditambah dengan koalisi dengan 52 wakil nasionalis, dan absennya wakil-wakil komunis, maka Nazi menjadi mayoritas mutlak. Itulah demokrasi di Jerman ketika itu. Rakyat Jerman mendukung gagasan-gagasan nasionalisme ekstrim Nazi dan memilih pemipin seperti Hitler yang kemudian menyeret dunia ke dalam Perang yang sangat mengerikan dengan mengorbankan nyawa jutaan manusia.

Mengapa Nazi dan Hitler didukung rakyat Jerman, meskipun partai ini membawa ide-ide gila? Jawabnya, karena Hitler dan Nazi pandai menarik suara rakyat, dengan teknik propagandanya yang canggih. Kisah serupa dapat dijumpai di berbagai negara. Demokrasi sering gagal memilih pemimpin yang baik. Cara-cara yang digunakan untuk meraih suara rakyat pun bermacam-macam, bisa bermoral, bisa tidak. Lihatlah, bagaimana kini, partai-partai di Eropa enggan secara terbuka melakukan kampanye melawan kaum homoseksual, karena mereka tidak mau kehilangan konstituen atau suara rakyat. Sebab, dari hari ke hari, perilaku homoseksual telah dianggap sah dan sama dengan heteroseksual. Bahkan, sejumlah pendeta juga secara terbuka menyatakan sebagai gay.

Agama dan Renaissance

Pada 1 September 2003 lalu, Eramuslim.com menulis satu berita berjudul “Kaum Gay Belanda Terbitkan Buku Pedoman Cara Perkawinan Sesama Jenis”. Buku pedoman tata-cara kawin sesama jenis kelamin setebal 60 halaman itu, sekaligus sebagai seruan pada para aktivis gay di seluruh dunia untuk berupaya memperoleh hak-hak bejad mereka. Buku itu juga sebagai bukti pengukuhan, bahwa Belanda adalah negeri pertama yang melegalisasi perkawinan sejenis. Selain “kitab suci” kaum gay itu juga mendorong para kalangan gay di seluruh dunia aktif berkampanye, agar mereka bisa memperoleh hak kawin dengan sesama jenis. Buku itu berpesan, kaum gay agar berupaya keras melakukan perlawanan terhadap hukum-hukum yang diskriminatif. Mereka juga harus berjuang untuk mendapatkan hak-hak yang sama di seluruh tingkat pengadilan.

“Ini adalah suatu perjuangan bagi rakyat yang ingin sungguh-sungguh bebas dan memperoleh hak dan kesempatan yang sama bagi setiap orang,” ujar Jose Smits, anggota parlemen Belanda dari Partai Buruh Belanda, didamping partner lesbiannya dan tiga anak angkat mereka. “Memang tidak sederhana perkara kaum gay yang ingin memperoleh hak-hak yang sama sebagaimana kaum heteroseks. Ini suatu pertanyaan moral. Karena itu, ini merupakan suatu pertarungan politik untuk mendapatkan hak-hak yang setara bagi setiap orang,” kata Jose Smith.

Bisa dibayangkan, jika masyarakat sudah menerima praktik homoseksualitas sebagai bagian dari gaya hidup mereka, maka para politisi yang tidak mengikuti moral, akan menjual ide-ide yang menerima praktik bejat semacam itu, sebagai bagian propaganda politik. Itu dilakukan demi meraih suara rakyat. Bagaimana jika rakyat sudah menerima nilai-nilai pornografi, erotisme, budaya syahwat, dan sebagainya? Kita tidak heran, jika masyarakat Italia bisa memilih bintang pornografi Ilona Steler sebagai anggota parlemen. Maka, jika ada politisi Indonesia yang berpikir untuk menjual Inul sebagai ikon partainya, itu pun bisa dilihat dalam perspektif ini.

Namun, jika dipikirkan lebih jauh, praktik-praktik politik seperti ini sebanarnya merupakan satu bentuk politik Machiavelis. Istilah itu memang merujuk pada satu nama penulis terkenal di Eropa bernama Niccolo Machavelli. Siapakah orang ini? Dia adalah seorang Italia yang hidup pada 1469-1527. Zaman itulah yang dikenal dalam sejarah Eropa sebagai zaman renaissance. Artinya: lahir kembali, atau rebirth. Renaissance mulai muncul di Italia, ketika orang-orang Barat /Eropa melihat tanda-tanda keruntuhan otoritas agama Kristen dalam kehidupan mereka. Selama 500 tahun, mulai tahun 500-1500 M, mereka hidup di zaman yang mereka sebut sebagai ‘medieval’, zaman pertengahan yang identik dengan kegelapan. Zaman kegelapan ditandai dengan dominannya pengaruh agama Kristen dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Kekuasaan agama (gereja) mau campur tangan dan menguasai segala hal.

Karena ingin melepaskan diri dari segala pengaruh gereja atau Tuhan dalam kehidupan mereka, maka mereka menamakan zaman pencerahan itu sebagai renaissance atau zaman kelahiran kembali. Mereka menganggap, selama ratusan tahun dalam cengkeraman agama, mereka dalam keadaan mati. Maka, sekarang, setelah memasuki zaman baru, mereka merasa lahir kembali. Bagi orang Italia, yang pernah menjadi pusat kekuasaan imperium Romawi, mereka ingin kembali ke zaman kejayaan itu.

Benih-benih pencerahan itu sudah muncul sekitar abad ke-14. Ada dua corak yang dominan dalam pemikiran dan kesenian di zaman pencerahan itu, yaitu secular dan humanis. Kajian-kajian pemikiran mulai berbasis pada pemikiran Yunani Kuno dan literatur-literatur Romawi.

Manusia, kata mereka, harus memutuskan nasibnya sendiri di dunia. Bukan Tuhan yang menentukan nasib mereka. Tahun 1486, Giovanni Pico della Mirandola (1463-1494) menulis buku berjudul “Oration on the Dignity of Man”. Manusia, kata Pico, memiliki kebebasan untuk membentuk kehidupan mereka sendiri.” (Bayangkan, pemikiran seperti ini baru muncul di Eropa pada abad ke-15. Padahal, kalangan mutakallimin diantara kaum Muslim sudah habis-habisan mendiskusikan masalah ini sekitar 700 tahun sebelumnya).

Di lapangan politik dan moralitas, nama Machiaveli menjadi terkenal, setelah menulis bukunya yang berjudul, The Prince. Oleh para pemikir Barat kemudian, karya Machiaveli ini dianggap memiliki nilai yang tinggi yang memiliki pengaruh besar dalam social politik umat manusia. Sebuah buku berjudul “World Masterpieces” yang diterbitkan oleh WW Norton & Company, New York, tahun 1974 (cetakan kelima) menempatkan karya Machiaveli ini sebagai salah satu karya besar dalam sejarah umat manusia yang muncul di zaman renaissance. Diantara karya-karya lain yang ditampilkan dalam buku ini adalah Old Testament dan New Testament. Tahun 2002, sebuah lembaga di Australia, The Cranlana Programme, juga menerbitkan dua jilid buku berjudul “Powerful Ideas”. Buku ini juga memuat sejumlah karya terkenal dari pemikir dunia, seperti Plato, Aristoteles, Confucius, St. Agustine, Niccolo Machiaveli, John Locke, Rousseau, Adam Smith, Immanuel Kant, Karl Marx dan sebagainya.

Perjalanan hidup Machiavelli sendiri cukup menyedihkan. Ia pernah ditahan dan disiksa, karena dituduh melawan pemerintah Italia sekitar tahun 1495. Ia menulis The Prince pada umur 44 tahun, dan baru dipublikasikan tahun 1532, lima tahun setelah kematiannya. Machiavelli dianggap sebagai salah satu pemikir yang mengajak penguasa untuk berpikir praktis demi mempertahankan kekuasaannya, dan melepaskan nilai-nilai moral yang justru dapat menjatuhkan kekuasannya. Karena itu, banyak yang memberikan predikat sebagai “amoral”. Tujuan utama dari suatu pemerintahan adalah “survival”. Dan ini melampaui nilai-nilai moral keagamaan dan kepentingan dari individu-individu dalam negara. Dengan membuang factor “baik dan buruk” dalam kancah politik, Machiavelli membuat saran, bahwa seorang penguasa boleh menggunakan cara apa saja untuk menyelamatkan negara. Penguasa-penguasa yang sukses, kata dia, selalu bertentangan dengan pertimbangan moral dan keagamaan. Maka, kata Machiavelli lagi, “Jika situasi menjamin, penguasa dapat melanggar perjanjian dengan negara lain, dan melakukan kekejaman dan terror.

Yang terpenting dari pemikiran Machiavelli, adalah ia telah mengangkap persoalan politik dari aspek moral dan ketuhanan. Sejarawan Marvin Perry, mencatat dalam bukunya, Western Civilization: “Machiavelli’s significance as a political thinkers serts on the fact that he removed political thought from a religious frame of reference and viewed the state and political behavior in the detached and dispassionate manner of a scientist. In secularizing and rationalizing political philosophy, he initiated a trend of thought that we recognized as distinctly modern.”

Jadi, sumbangan terbesar Machiavelli adalah menghilangkan factor agama dalam politik, dengan memandang masalah politik dan negara, semata-mata sebagai factor saintifik yang rasional. Inilah yang dipandang sebagai politik modern.

Bagaimana dengan politik di Indonesia? Silakan dikaji, apakah pemikiran Machiavelli sudah merasuki dunia politik kita? Jika aspek halal-haram dihilangkan, aspek moral ditiadakan, dan politik semata-mata dipandang sebagai “struggle for power” dengan cara apa pun – termasuk menjadikan Inul sebagai Ikon – maka gejala ini perlu dicermati dengan sungguh-sungguh.

Namun, para ulama dan cendekiawan Muslim perlu mencermati dengan serius, munculnya pemikiran seperti Machiavelli itu dapat terjadi karena masyarakat sudah “muak” dengan ulah tokoh-tokoh agama yang mempermainkan atau menjual agama dengan harga yang murah. Surat pengampunan dosa diperjual belikan. Sejumlah pastur atau Paus diketahui oleh masyarakat memiliki gundik dan hidup berbeda dengan ucapan-ucapannya sebagai tokoh agama. Machiavelli membuka jalan bagi penyingkiran agama lebih jauh.

Di abad ke-18, masyarakat Perancis semakin membenci agama dan tokoh-tokohnya, karena mereka mendapatkan hak istimewa untuk bebas pajak, sementara rakyat dibebani pajak yang sangat berat. Dalam hal ini, para politisi Muslim memiliki beban tanggung jawab yang sangat berat. Mereka dituntut bukan hanya cerdas dan pandai dalam politik dan merebut/mempertahankan kekuasaannya, tetapi juga dituntut memberikan suri tauladan akhlak yang tinggi, agar dapat menjadi contoh bagi masyarakatnya. Adalah bencana besar jika banyak politisi Muslim, pintar bicara tentang moral dan syariat Islam, tetapi akhlak dan perilakunya sendiri jauh dari ucapannya. Jika masyarakat melihat semua itu, maka bisa jadi, kita akan menyaksikan terulangnya sejarah, dimana masyarakat akan lebih percaya kepada Inul daripada Kyai A atau Kyai B. Jika itu terjadi, maka tentu ini bencana besar bagi bangsa Indonesia.

Kita diwajibkan melakukan amar ma’;ruf nahi munkar, mengkritik orang lain, tetapi yang lebih penting, adalah memperbaiki diri sendiri. Wallahu a’lam.

MAKNA IFTIRAQ (PERPECAHAN UMAT)

Posted in KUMPULAN ARTIKEL on September 13, 2008 by ukpkstain

Secara etimologi, iftiraq berasal dari kata al-mufaraqah (saling berpisah), dan al-mubayanah (saling berjauhan), dan al-mufashalah (saling terpisah) serta al-inqitha’ (terputus). Diambil juga dari kata al-insyi’ab (bergolong-golongan) dan asy-syudzudz (menyempal dari barisan). Bisa juga bermakna memisahkan diri dari induk, keluar dari jalur dan keluar dari jama’ah.

Secara terminologi, perpecahan adalah keluar dari As-Sunnah dan Al-Jama’ah dalam masalah ushuluddin yang qath’i, baik secara total maupun parsial. Baik dalam masalah i’tiqad/keyakinan ataupun masalah amaliyah yang berkaitan dengan ushuluddin atau berkaitan dengan maslahat umat atau berkaitan dengan keduanya.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.

“Artinya : Siapa keluar dari ketaatan serta memisahkan diri dari jama’ah lalu mati, maka kematiannya adalah kematian secara jahiliyah. Siapa berperang dibawah panji ashabiyah/fanatik golongan, emosi karena ashabiyah lalu terbunuh, maka mayatnya adalah mayat jahiliyah. Siapa memisahkan diri dari umatku (kaum muslimin) lalu membunuhi mereka, baik yang shalih maupun yang fajir dan tidak menahan tangan mereka terhadap kaum mukminin serta tidak menyempurnakan perjanjian mereka kepada orang lain, maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan golongannya” [Hadits Riwayat Muslim]

Menyelisihi salah satu pedoman Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam aqidah terhitung perpecahan dan memisahkan diri dari jama’ah. Demikian pula melanggar ijma’, mengeluarkan diri dari jama’ah serta imam yang mereka sepakati dalam hal-hal yang berkaitan dengan maslahat umum terhitung perpecahan dan memisahkan diri dari jama’ah.

Siapa saja yang melanggar amalan sunnah yang disepakati kaum muslimin termasuk perpecahan. Sebab ia telah memisah dari jama’ah. Semua kekufuran akbar termasuk perpecahan, namun bukan setiap perpecahan tergolong kekufuran. Maksudnya, setiap amalan ataupun keyakinan yang bisa mengeluarkan seseorang dari pokok ajaran Islam, dan dari hal yang qath’i dalam agama ini juga dari sunnah dan jama’ah, dan hal ini semua dapat menggiringnya kepada kekufuran, maka perbuatannya itu disebut iftiraq (memisahkan diri). Namun tidak semua perpecahan itu tergolong kekufuran. Yakni, mungkin saja suatu kelompok atau sekumpulan manusia atau sebuah jama’ah keluar dari Ahlus Sunnah namun tidak dihukumi kafir. Sekalipun memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin dalam prinsip-prinsip tertentu, seperti kelompok Khawarij. Khawarij generasi pertama telah memisahkan diri dari kaum muslimin, bahkan mereka mengangkat senjata terhadap umat ini. Mereka memisahkan diri dari jama’ah serta membangkang terhadap imam kaum muslimin.

Walaupun begitu, para sahabat tidak menghukumi mereka kafir, bahkan mereka berbeda pendapat dalam masalah ini. Ketika Imam Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu ditanya status mereka, beliau tidak memvonis mereka kafir. Demikian pula Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma serta beberapa sahabat lainnya. Mereka juga bersedia shalat dibelakang tokoh khawarij bernama Najdah Al-Haruriy. Begitupula Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma , beliau membalas surat seorang tokoh Khawarij bernama Nafi’ bin Al-Azraq dan mendebatnya dengan Al-Qur’an, sebagaimana hal itu lumrah dilakukan terhadap sesama kaum muslimin.[[1]]




[1] Lihat Minhajus Sunnah, karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah V/247-248

Beberapa Contoh Penyimpangan dan Kesesatan Ajaran Tasawuf

Posted in KUMPULAN ARTIKEL on September 13, 2008 by ukpkstain

Berikut kami akan nukilkan beberapa ucapan dan keyakinan sesat dan kufur dari tokoh-tokoh yang sangat diagungkan oleh orang-orang ahli tasawuf, yang menunjukkan besarnya penyimpangan ajaran ini dan sangat jauhnya ajaran ini dari petunjuk Al Quran dan As Sunnah.

Pertama, Ibnu Al Faridh yang binasa pada tahun 632 H, tokoh besar sufi yang menganut paham Wihdatul Wujud dan meyakini bahwa seorang hamba bisa menjadi Tuhan, bahkan -yang lebih kotor lagi- dia menggambarkan sifat-sifat Tuhannya seperti sifat-sifat wanita, sampai-sampai dia menganggap bahwa Tuhannya telah menampakkan diri di hadapan Nabi Adam ‘alaihi salam dalam bentuk Hawwa (istri Nabi Adam ‘alaihi salam)?! Untuk lebih jelas silakan merujuk pada kitab Hadzihi Hiya Ash Shufiyyah (hal. 24-33), tulisan Syaikh Abdurrahman al Wakil yang menukil ucapan-ucapan kufur Ibnu Al Faridh ini.

Kedua, Ibnu ‘Arabi dalam kitabnya Fushushul Hikam yang berisi segudang kesesatan dan kekufuran. Dalam kitabnya ini dia mengatakan bahwa Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lah yang memberikan padanya kitab ini, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Bawalah dan sebarkanlah kitab ini pada manusia agar mereka mengambil manfaat darinya”, kemudian Ibnu ‘Arabi berkata: “Maka aku pun (segera) mewujudkan keinginan (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) itu seperti yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentukan padaku tidak lebih dan tidak kurang.” Kemudian Ibnu ‘Arabi berkata:

(Kitab ini) dari Allah, maka dengarkanlah!
dan kepada Allah kembalilah!

(Fushushul Hikam, dengan perantaraan kitab Hadzihi Hiya Ash Shufiyyah hal. 19).

Ketiga, At Tilmisani, seorang tokoh besar tasawuf, ketika dikatakan padanya bahwa kitab rujukan mereka Fushushul Hikam bertentangan dengan Al Quran, dia malah menjawab, “Seluruh isi Al Quran adalah kesyirikan, dan sesungguhnya Tauhid hanya ada pada ucapan kami.” Maka dikatakan lagi kepadanya, “Kalau kalian mengatakan bahwa seluruh yang ada (di alam semesta) adalah satu (esa), mengapa seorang istri halal untuk disetubuhi, sedangkan saudara wanita haram (disetubuhi)?” Maka dia menjawab, “Menurut kami semuanya (istri dan saudara wanita) halal (untuk disetubuhi), akan tetapi orang-orang yang terhalang dari penyaksian keesaan seluruh alam mengatakan bahwa saudara wanita haram (disetubuhi), maka kami pun ikut-ikut mengatakan haram.” (Dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, lihat Majmu’ul Fatawa 13/186).

Keempat, Abu Yazid Al Busthami, yang pernah berkata: “Aku heran terhadap orang yang telah mengenal Allah, mengapa dia tetap beribadah kepada-Nya?!” (Dinukil oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya’ 10/37). Dia juga berkata, “Sungguh aku telah menghimpun amalan ibadah seluruh penghuni tujuh langit dan tujuh bumi, kemudian aku masukkan ke dalam bantal dan aku letakkan di bawah pipiku.” (Hilyatul Auliya’ 10/35-36).

Kelima, Abu Hamid Al Ghazali, seorang yang termasuk tokoh-tokoh ahli tasawuf yang paling besar dan tenar, di dalam kitabnya Ihya ‘Ulumud Din ketika dia membicarakan tingkatan-tingkatan dalam tauhid, dia mengatakan, “Dalam Tauhid ada empat tingkatan: …Tingkatan yang kedua: Dengan membenarkan makna lafadz di dalam hati sebagaimana yang dilakukan oleh umumnya kaum muslimin, dan ini adalah keyakinannya orang-orang awam?! Tingkatan yang ketiga: Mempersaksikan makna tersebut dengan jalan Al Kasyf (penyingkapan tabir) melalui perantaraan cahaya Al Haq (Allah ‘Azza wa Jalla  ) dan ini adalah tingkatan Al Muqarrabin, yaitu dengan seseorang melihat banyaknya makhluk (di alam semesta), akan tetapi dia melihat semuanya bersumber dari Zat Yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa, dan tingkatan yang keempat: Dengan tidak menyaksikan di alam semesta ini kecuali satu zat yang esa, dan ini merupakan penyaksian para Shiddiqin, dan diistilahkan oleh orang ahli tasawuf dengan sebutan: Al Fana’ Fit Tauhid (telah melebur dalam tauhid/pengesaan) karena dia tidak melihat kecuali satu, bahkan dia tidak melihat dirinya sendiri… Dan inilah puncak tertinggi dalam tauhid. Jika anda bertanya bagaimana mungkin seseorang tidak melihat kecuali hanya satu saja, padahal dia melihat langit, bumi dan semua benda-benda yang benar-benar nyata, dan itu banyak sekali? dan bagaimana sesuatu yang banyak menjadi hanya satu? Ketahuilah bahwa ini adalah puncak ilmu Mukasyafat (tersingkapnya tabir) (maksudnya adalah cerita bohong orang-orang ahli Tasawuf yang bersumber dari bisikan jiwa dan perasaan mereka, yang sama sekali tidak berdasarkan Al Quran dan As Sunnah, -pen), dan rahasia-rahasia ilmu ini tidak boleh ditulis dalam sebuah kitab, karena orang-orang yang telah mencapai tingkatan Ma’rifah berkata bahwa membocorkan rahasia ketuhanan adalah kekafiran. Sebagaimana seorang manusia dikatakan banyak bila anda melihat rohnya, jasad, sendi-sendi, urat-urat, tulang belulang dan isi perutnya, padahal dari sudut pandang lain dikatakan dia adalah satu manusia.” (Lihat kitab Ihya ‘Ulumud Din 4/241-242).

Al Ghazali juga berkata, “Pandangan terhadap tauhid jenis pertama, yaitu pandangan tauhid yang murni, dengan pandangan ini, Anda pasti akan dikenalkan bahwa Dialah yang bersyukur dan disyukuri, dan Dialah yang mencintai dan dicintai, ini adalah pandangan orang yang meyakini bahwa tidaklah ada di alam semesta ini melainkan Dia (Allah ‘Azza wa Jalla ).” (Ibid 4/83).

Keenam, Asy Sya’rani, seorang tokoh besar tasawuf yang telah menulis sebuah kitab yang berjudul Ath Thabaqat Al Kubra, yang memuat biografi tokoh-tokoh ahli tasawuf dan kisah-kisah (kotor) yang dianggap oleh orang-orang ahli tasawuf sebagai tanda kewalian. Di antaranya kisah seorang wali(?) yang bernama Ibrahim Al ‘Uryan, orang ini bila naik mimbar dan berceramah selalu dalam keadaan telanjang bulat!? (Lihat At Thabaqat Al Kubra 2/124).

Kisah lainnya tentang seorang (wali Setan) yang bernama Syaikh Al Wuhaisyi yang bertempat tinggal di rumah pelacuran, yang mana setiap ada orang yang selesai berbuat zina, dan hendak meninggalkan tempat tersebut, dia berkata kepadanya: “Tunggulah sebentar hingga aku selesai memberikan syafaat untukmu sebelum engkau meninggalkan tempat ini!?” Dan diantara kisah tentang orang ini: bahwa setiap kali ada seorang pemuka agama setempat sedang menunggang keledai, dia memerintahkannya untuk segera turun, lalu berkata kepadanya: “Peganglah kepala keledaimu, agar aku dapat melampiaskan birahiku padanya!?” (Lihat At Thabaqat Al Kubra 2/129-130).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.